Menjadi Pengamat, Diam, Lalu Terpesona

meeting

Banyak situasi dan kejadian dimana Anda biasa hanya akan diam dan jadi pengamat saja.

Memandang langit di pagi hari saja Anda bisa hanya diam dan mengamati.

Memandang biru laut sambil merasakan hembusan angin pantai di senja hari dan memperhatikan matahari terbenam, Anda pun bisa diam sambil terpesona.

Yang ini tentunya semua orang akan memberikan persetujuan.

Melihat anak-anak kecil sedang bermain, melihat orang saling berinteraksi di pasar, atau melihat kemacetan lalu lintas di jalan pun Anda bisa hanya diam dan dan mengamati.

Walau tidak semua bisa bersikap seperti itu.

Saya pun hanya diam dan mengamati saja saat berberapa minggu kemarin ikut-ikut Bos rapat dengan para pemilik perusahaan.

Orang-orang yang biasa punya akun di bank bermiliar dan biasa naik turun mobil mewah tentunya.

Dapat kabar untuk ikut rapat dan bertemu dengan mereka ternyata bisa membuat risau. Saya berpikir nanti mau ngapain di tempat rapat itu?

Pastinya saya hanya akan banyak diam saja, sambil mungkin sesekali memberikan jawaban ke si Bos bila dia bertanya perihal sesuatu hal.

Dan memang begitulah yang terjadi.

Di dalam rapat, saya cuma diam saja saja sambil mendengarkan pembicaraan mereka. Terkadang ada yang saya paham terkadang ada juga yang nga pahamnya.

Peranan Masing-masing

Dan dari diam mengamati itu saya jadi ingat pesan pak Ustadz*).

Mereka semua ya sama seperti kita. Masing-masing punya cerita, pengalaman, suka duka kehidupan.

Bedanya hanya di peranan masing-masing sesuai dengan apa yang telah ditetapkanNya.

Memang benar baru kali ini, saya melihat langsung bagaimana mereka berinteraksi dalam suatu rapat.

Betapa ada senda gurau padahal yang dibicarakan itu terkait dengan jumlah uang yang sangat besar, betapa mereka sangat mudah berbicara angka padahal angka yang bernilai miliaran rupiah. Betapa mereka sepertinya tidak memiliki beban berat yang dihadapi.

Mereka adalah para pemilik perusahaan dengan jumlah karyawan yang banyak dan tanggung jawab yang besar.

Tiba-tiba ada pertanyaan dalam hati? Bagaimana kehidupan keseharian mereka? Bagaimana mereka menghadapi tekanan yang begitu besar dan berat?

Kalau saya yang karyawan rasanya tidak sanggup menghadapi tekanan besar seperti yang mereka hadapi.

Tetapi, balik lagi ke pesan pak Ustadz bahwa semua sudah memiliki peranan masing-masing dengan kelengkapannya.

Jadi, tidak usah bingung dengan bagaimana mereka dan bagaimana kita. Masing-masing sudah punya peranan dan ketetapan dari Tuhan.

Dia Yang Maha Mengurusi hamba-hambanya. Tidak Ada campur tangan sedikitpun terhadap itu semua.

Menyaksikan bagaimana para bos itu berinteraksi hanya menimbulkan suatu kebersyukuran terhadap apa yang terjadi.

Dengan ketetapanNya, saya bisa ikut hadir dalam rapat tersebut, menjadi pengamat, diam lalu terpesona.

Jadi ingat pesan Syech Abdul Qadir Jaelani di Futuh Ghaib:

“Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH. (terjemahan Futuh Al Ghaib, Risalah Ketiga).”

Selamat Hari Jumat Sahabat.

*) Arif Billah Hj. Hussien B. Abdul Latiff

Photo credit: Maryland GovPics at Flicr