Teri Kacang (Doa Ibu buat Anak)

3859981066_b7414f923e_b

Anda mungkin pernah mencoba menu makanan “teri kacang”.

Makanan yang merupakan kombinasi teri, kacang dan sambal pedas manis ini sangat cocok sebagai lauk untuk menemani makan siang atau malam Anda.

Saya biasa menikmatinya bersama nasi panas yang asapnya masih mengepul-ngepul. Dijamin tak akan cukup makan hanya satu piring saja. Selera makan ini rasanya belum terpuaskan bila tidak mencoba untuk tambah lagi dan tambah lagi.

Entah mengapa setiap istri saya membuat masakan tersebut saat itu pula saya selalu teringat kisah saat Almarhumah Ibu masih berada bersama-sama kami semua.

Kejadiannya sudah lama sepertinya saat kami masih kuliah, tetapi kilasan kejadian itu kerap kali muncul manakala masakan teri kacang hadir di depan mata.

Semasa kuliah dulu, adik saya adalah salah seorang anggota sekaligus pengurus kegiatan mahasiswa pencinta alam yang suka naik turun gunung di kampusnya.

Pada suatu hari, dia meminta almarhumah ibu kami untuk menyiapkan menu “teri kacang” yang akan dia bawa untuk naik gunung. Selain karena rasanya, masakan Ibunda tersebut bisa bertahan lebih dari 5 hari bila disimpan dengan baik sehingga cukup untuk dijadikan bekal naik gunung.

Dan memang permintaan kali ini bukan yang pertama kali. Sudah beberapa kali dia meminta ibu memasak “teri kacang” karena dari beberapa kali pengalaman, teman-teman pencinta alam kampusnya kepincut dengan masakan ibu tersebut.

Kita bisa bayangkan di tengah hutan belantara diantara rimbunan pepohonan dengan cuaca dingin, semua pendaki duduk beristirahat bersama.

Mereka memasak nasi dan membuka perbekalan lauk pauk masing-masing. Saling berbagi bekal dari rumah atau sekedar memasak makanan ala kadarnya tentunya akan memperkuat kekompakan diantara sesama.

Kita kembali ke masakan ibu.

Beliau siapkan ikan terinya yang istimewa. Ikan teri medan yang cukup mahal harganya. Belum lagi kacang tanahnya. Kacang tanahnya pun harus berkualitas bagus agar terasa gurihnya. Plus cabai yang juga harus baik biar semakin mantap rasanya.

Ibunda selalu membuatnya dengan senang hati. Ibu membuat sambal, menggoreng teri,  menggoreng kacang kemudian memasukkan semuanya menjadi satu di penggorengan.

Saya agak lupa detailnya sampai bagaimana ceritanya teri kacang yang dibuat ibu itu ternyata gosong. Tahulah kalau kacang gosong tentunya akan pahit bila dimakan.

Adik saya marah pada ibu begitu melihat “teri kacang” yang digoreng ibu gosong. Dia marah dan bilang bahwa dia tidak akan membawa “teri kacang” tersebut untuk bekalnya naik gunung karena malu.

Ibu kami seperti ibu Anda juga tentunya, adalah seorang ibu yang baik dan penyayang. Dengan lembut, beliau meminta maaf pada adikku karena sudah membuat kacangnya gosong.

“Nak… ibu minta maaf ya. Masakannya gosong, tetapi sebagian lainnya masih bagus. Nanti ibu pisahin ya… Kacang yang benar-benar gosong ibu pisahin jadi tetap bisa dibawa. Terinya masih bagus kok, nga gosong jadi masih bisa dimakan”, begitu kata ibu.

Adik saya masih juga tidak mau mengerti dan tetap tidak mau membawa “teri kacang” tersebut. Lalu pergi masuk kamar meninggalkan ibu di dapur begitu saja.

Ada diskusi antara saya dan adik saya di kamarnya. Sempat emosi juga, dan saya masih ingat betul bagaimana dialognya.

“De.., kenapa nga mau membawa teri kacangnya? Kan sudah dipisahkan sama ibu. Kacang gosong sudah tidak ada lagi. Sudah dipisahkan dan dibuang.” kata saya coba mengulang kembali perkataan ibu.

Adik malah menjawab,”Tetap saja. Itu kan sudah jadi satu. Pasti semua pahit kalau dimakan.”

Spontan saya pun bilang, “Kenapa nga mau dibawa? Malu sama teman-teman? kata saya lagi penuh emosi. Ada doa di teri kacang itu. Doa ibu kita. Doa yang akan membuat kita kuat dan tegar menghadapi alam seberat apapun. Mana yang selama ini kita bangga-banggakan bahwa kita mencintai dan menghormati ibu? Cuma gara-gara kacang gosong saja kamu tidak mau bawa makanan itu?”

“Takut teman-teman nga pada mau makan? Kalian kan digunung! Apapun nikmat kalau digunung. Tidak akan ada itu namanya kacang gosong. Semua pasti nikmat. Kalau pun teman teman tidak mau makan, ya kamu aja yang makan. Bilang sama teman-teman ini doa ibuku. Aku makan karena makanan ini yang akan memberikan kekuatan buatku. Ini doa ibuku. Kalau kalian nga mau makan terserah.”

“Dibuat dengan senyuman ibu yang ikhlas menyediakan bekal makan buat anaknya. Apapun yang diberikan ibu didalamnya selalu ada doa. Doa pada Allah semoga anaknya yang mau naik gunung, yang sudah besar dan sudah jadi lelaki itu tetap dilindungi dari segala mara-bahaya.”

Dan kita pun terdiam. Sampai beberapa saat kemudian dia berkata, dan saya bisa melihat matanya mulai basah dan memerah, “Iya…, itu doa ibu…doa, doa ibuku…”

Alhamdulillah, besoknya dengan bangga Adik saya mau membawa “teri kacang” gosong itu. Saya bisa bayangkan bagaimana di gunung nanti dia akan  menatap gagah teman-temannya dan berkata, “Ayo kita makan. Ini masakan ibu yang penuh dengan doa buat kita semua! Doa ibu agar kita selamat dalam melakukan kegiatan apapun.”

Satu suap nasi disaat menikmati masakan istriku kini selalu menghadirkan kembali kisah teri kacang gosong itu.  Bahwa betapa ibu akan selalu memperhatikan anak-anaknya sampai ke hal-hal yang sangat detail untuk kita semua.

Ibu akan selalu berbuat yang terbaik untuk kita semua.Semoga Ibu kita semua diberi balasan yang baik dari Allah.

Pemimpin hadir karena ibu, oleh karena itu muliakan Ibu Anda semua. Doanya yang akan menjadikan kita jadi pemimpin yang baik.

Photo credit: Mathias Erhart

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s