Mendengar Efektif

2245563352_c9310191c5_o

Bagaimana menjadi pendengar efektif? Apa susahnya mendengar? Kenapa kemampuan ini dikaji dan harus dipelajari oleh setiap orang? Di salah satu blog bahkan menganggap bahwa kemampuan ini merupakan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Tidak usah jauh-jauh. Seorang Manajer perusahaan dengan kemampuan mendengar efektif sangat dibutuhkan dan dapat membuat orang-orang di departmentnya merasa dihargai.

Teori bisa dibuat dengan uraian detail dalam beberapa point? Namun, pelajaran nyata saya dapat beberapa waktu lalu.

Saat itu, ada seorang teman dalam department saya meminta waktu untuk mendiskusikan masalah promosi. Bukan promosi barang loh ya. Promosi dimaksud adalah review jenjang karir dan gaji tahunan.

Sang teman saya itu mengeluh kenapa para atasan tidak mau memberikan kesempatan dirinya untuk menjadi dan mendapatkan posisi lebih tinggi lagi. Dia sudah lama bekerja di perusahaan dan merasa memang sudah selayaknya diberi tanggung jawab lebih karena dia yakin ada kemampuan dirinya untuk sukses mengemban tanggung jawab itu. Saya bingung juga menjawabnya karena alasan pastinya pun masih simpang siur. Apa yang harus disampaikan agar dia tidak kecewa?

Saya biarkan saja dia bicara menyampaikan keluh kesahnya. Panjang lebar bercerita, tanpa saya harus menyela, cukup terdiam saja mendengarkan. Di saat-saat dia harus terdiam lama dan saya pikir sudah tidak ada lagi tambahan kata-kata yang harus disampaikan barulah saya bicara. Itupun hanya cuma sebentar sebab tak lama dia yang kembali bicara :-).

Coba berempati tanpa harus menasehati sepertinya berhasil. Satu waktu, kita pernah ingin sekali bicara dengan orang yang kita percaya untuk sekedar “curhat”. Sekedar didengar saja tidak lebih dari itu akan membuat beban pikiran ataupun perasaan suntuk, kesal, kecewa bisa terlepaskan. Apakah ini namanya salah satu tips menjadi pendengar efektif? Semoga saja. Yang jelas tidak ada solusi saya berikan. Pembicaraan kami berakhir dengan keyakinan bahwa semua masih ada jalan keluarnya.

Satu hal saya rasakan bahwa kita harus berada pada posisi netral, adem ayem tidak dalam kondisi suntuk juga.

Di kesempatan lain pernah ada teman lain saya meminta waktu untuk berdiskusi, tapi karena saya pun lagi emosi tingkat tinggi, saya tidak berikan waktu teman saya satu lagi itu untuk menyampaikan kisahnya. Saya lebih banyak bicara dan menasehati. Hati orang siapa tahu? Mungkin ada kata-kata saya yang menyakiti hatinya. Alhasil teman saya itu sudah tidak masuk kerja lagi keesokan harinya.

Alhamdulilah, pelajaran berharga itu tidak berlarut-larut. Teman saya itu sudah mau berkomunikasi dengan saya kini. Hubungan kita baik kembali. Semoga keputusannya itu bisa memberikan solusi terbaik buat semua. Yakin, pasti sudah ada perusahaan lain untuknya bekerja lebih baik lagi. Insha Allah.

 Photo credit by: David Robert Bilwas

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s