Lontong isi Ayam

5121853469_c31debed48_b

Tahun 2012 ini Bulan Ramadan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012. Tak terasa sudah berbilang tahun lulus kuliah dan kenangan dimana Ibuku dengan iklasnya menyiapkan lontong isi ayam untuk saya berbuka puasa saat masih kuliah dulu menjadi kenangan indah tak terlupakan.

Saya dulu pernah kuliah sore hingga malam hari. Uang harian dari Bapak dan Ibu cuma cukup buat ongkos dan jajan saja. Itu saja saya sudah malu karena belum bisa membantu kebutuhan keluarga dengan segera bekerja.

Suatu pagi di bulan Ramadan Ibu saya bertanya dengan indahnya: “Nanti mau ibu buatkan lontong isi Ayam? Buat buka puasa di kampus?”. Saya tahu membuat lontong pasti membutuhkan waktu ekstra. Saya mau bilang tidak usah, tetapi ibu memang ingin buat lontong isi ayam hari ini buat buka puasa Bapak dan Adik-adikku juga. Jadilah saya bilang “Iya bu, mau banget”.

Alhamdulillah, lontong isi ayam Ibu selesai dan siap dibawa saat saya mau mulai berangkat.

Suka cita hati Ibu melihat dia bisa menyelesaikan lontong isi ayam itu tepat waktu. Dengan penuh sayang Ibu kembali bertanya: “Mau bawa berapa lontongnya?” Saya bilang “Dua aja cukup Bu”. “Benar ni dua saja cukup? tidak mau bawa tiga?”, kata Ibuku.

“Dua cukup Bu, kan cuma untuk membatalkan puasa saja. Nanti malam habis pulang kuliah baru makan lagi”.

Setiba di kampus dan saat azan magrib berkumandang, saya nikmati lontong isi ayam itu buatan ibu itu. Ada rasa senang, sedih dan bangga bercampur jadi satu saat makan lontong isi ayam tersebut.

Duduk sendiri di bangku taman dekat gedung kuliah saat malam mulai menyelimuti dan cahaya lampu mulai menggantikan matahari. Daun-daun pohon yang tadinya gelap menjadi terang kembali terkena cahaya lampu. Kesendirian ini membuat kenangan indah di dalam hati.

Betapa biaya kuliahku tidaklah murah. Keuangan keluarga pasti tergerus sebagian besar untuk biaya kuliah, tetapi Ibuku seorang yang ahli dalam mengatur strategi keuangan.

Saya yakin bahwa ibu pasti kerap kali menghadapi posisi sulit dimana beliau harus membuat prioritas. Namun, hal itu tidak pernah tampak di raut wajahnya. Kami semua cuma tahu bahwa semuanya beres dan tidak ada masalah.

Ibu saya masih seperti ibu lainnya yang tidak ingin anaknya kelaparan dikampus. Selalu ingin anaknya bisa makan dikampus. Tidak seperti sebagian ibu zaman sekarang yang lebih suka memberi uang jajan lebih besar ketimbang memberikan bekal makan dari rumah.

Itulah kisah yang kini selalu dapat manis dikenang. Kisah betapa indahnya kasih sayang ibu buat kami semua. Semoga rahmat Allah selalu menyertainya.

Photo credit: Ian Sane

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s