Reuni Yang Bermakna

photo-montage-915133_1920

Alhamdulillah acara reuni SMPN saya dulu bisa terlaksana dan saya bisa menghadirinya. Semangat dari istriku membuat saya mantab untuk hadir di acara tersebut.

Saya tidak pernah bertemu sama sekali dengan teman-teman alumni SMPN selama hampir 22 tahun. Seribu rasa hadir di dada karena membayangkan akan seperti apa acara reuni tersebut dan akan bagaimana reaksi teman-teman ketika melihat saya atau teman-teman lainnya telah berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa tentunya.

“Akankah mereka kenal saya?” dalam hati bertanya sambil senyum-senyum sendiri.

“Mereka pasti kenal kalau dulu itu mereka adalah sahabat saya”.

Sebagian teman lagi tentunya tidak begitu kenal saya karena satu kelas di SMPN saja isinya dulu bisa 40 orang. Kita memiliki 7 kelas. Dengan demikian, total orang ada kurang lebih 280 orang. Lupa nama atau tidak kenal sama sekali menjadi suatu keniscayaan.

Kala sendiri, saya kadang berpikir. Ya Allah, kami lulus SMP sudah 22 tahun yang lalu. Kini semua telah berubah ke arah yang lebih baik. Terima kasih atas rahmat dan berkah dari Mu. Perjalanan panjang selepas SMP selama 22 tahun tidak begitu terasa. Sebagian ada suka sebagian lagi ada duka. Namun, semua menjadi manis bila diingat-ingat kembali saat ini.

Saya yakin, teman-teman pun akan merasakan hal yang sama. Betapa pengalaman hidup selama 22 tahun itu tidak semua dapat diingat dan kalau pun teringat semuanya telah berubah menjadi indah.

Kita masih sama seperti yang dulu. Ada yang pendiam. Ada yang tetap eksis ceria. Namun, ada juga yang dulunya terkenal “bandel” telah berubah menjadi semakin arif. Dan yang pasti, semua yang dulu kecil imut sekarang menjadi gemuk dan malah semakin gemuk.:-).

Saya bayangkan kembali bahwa sampai usia kini perasaan kita masih sama seperti waktu SMP dulu. Ada rasa untuk tetap ingin berkarya dan menjadi lebih baik lagi.

Waktu masih SD dan SMP dulu, saya pernah lihat para bapak dan ibu melakukan reuni-an dan sepertinya aneh. Kok sudah pada berumur, tetapi masih tetap semangat untuk ketemuan.

Kenapa mereka begitu semangat untuk hadir dalam reuni-an tersebut? Jawabannya bisa saya peroleh sekarang ini.

Bagaimanapun usia kita, tetap ada memori terpatri dalam benak ini bahwa kita adalah kita saat SD, SMP, SMU, lalu kuliah, dan berkarir pada jalur masing-masing. Kita adalah kita di masa lalu dan masa kini. Benarlah bahwa menjadi tua itu pasti dan menjadi bijaksana itu adalah pilihan.

Acara reuni-an berlangsung amat seru. Lupa bahwa kita sudah 22 tahun tamat SMP. Kita bisa langsung saling connect satu sama lain. Apalagi begitu ingat si A pernah sekelas dengan si B dan si B pernah sekelas dengan si C bahkan pernah main ke rumahnya dan kenal sama orang tuanya.

Macam-macam memori indah kembali hadir untuk saling mengingatkan kita satu sama lain. Sesi foto bersama teman-teman saat kelas 1 SMP menjadi trigger ampuh mencairkan suasana.

Di akhir acara, saya hanya bisa bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang kita rasakan dari awal acara sampai ke penghujung acara.

Teriring doa untuk para Guru, baik untuk mereka yang masih hidup atau mereka yang telah kembali pada Allah. Dan tentunya juga untuk teman-teman kita yang telah mendahului kita kembali kepada-Nya.

Terima kasih pada Allah yang telah mengerakkan hati beberapa teman-teman untuk menjadi panitia dan membuat acara reunian tersebut bisa terwujud.

Semoga kita selalu dalam hidayah Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aamiiin.

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s