Jangan menunggu untuk Bahagia

The_address_of_happiness_David_Kikrpatrick

Dosen saya pernah bercerita. Dia punya teman yang biasa-biasa saja dengan nilai biasa-biasa saja, tetapi kabar terakhir temannya itu telah jadi orang sukses. Sementara, teman lainnya yang dulu pintar, hidupnya tidak sesukses temannya yang biasa-biasa tadi.

Cerita dosen saya itu seketika menjadi bahan becandaan teman saya ke teman saya satunya lagi yang waktu itu memang kita akui sebagai mahasiswa yang pandai.

“Wah, loe jangan pinter-pinter bro, belum tentu jadi orang sukses nanti!” ucapnya sambil tertawa.

Kami semua juga ikut tertawa mendengar kelakar tersebut sambil galau di hati, apa benar begitu adanya?

Sekarang ini, saya malah mendengar bahwa teman saya SMP yang dulu pintar sekarang tetap pintar dan sukses. Dia bahkan telah mendapatkan pengakuan nasional dan international sebagai ilmuwan muda berprestasi.

Dari kedua cerita tadi letak rahasia kesuksesan itu di biasa-biasa saja atau harus pintar ya?

Teori-teori yang membahas cerita dan pengalaman diatas sudah banyak. Orang bilang bahwa kecerdasan Intelektual tidak cukup untuk menjadi sukses. Seseorang harus memiliki juga apa yang disebut dengan kecerdasan Emosional, kecerdasan Sosial dan kecerdasan Spiritual.

Saya sendiri membaca sekedarnya saja perihal kecerdasan itu karena semuanya masih susah buat saya terapkan. Saya perlu satu teori sederhana yang bisa langsung diterapkan!

Sampai akhirnya, saya mendapatkan satu artikel yang berjudul “Doing without Doing” di internet beberapa hari lalu. Pernyataan menarik dari artikel tersebut adalah “it is not your action that makes things happen, it is your intent”.

Inilah yang mengugah dan menarik untuk dianalisa. Bahwa kita cenderung untuk bertindak lebih dahulu, tetapi melupakan kekuatan pikiran dan perasaan kita. Lebih lanjut, kita cenderung bertindak berdasarkan atas apa yang kita tidak inginkan bukan berdasarkan atas apa yang kita inginkan.

Kita bertindak karena kita tidak mau gagal. Kita tidak ingin hidup susah. Kita tidak mau kekurangan uang. Kita tidak mau menyusahkan orang. Begitu seterusnya, itulah fokus kita. Padahal, semakin kita fokus terhadap apa yang kita tidak inginkan semakin itulah yang akan menjadi kenyataan.

Ada benarnya juga si. Inget dulu teman saya pernah punya pengalaman putus dengan pacar. Semakin dia bertindak dan berusaha keras untuk tidak memikirkannya, semakin kuat pikiran dan kejadian-kejadian dengan si dia muter-muter di kepalanya dan membuatnya malah semakin frustasi. Benar tidak? 🙂

Pikiran memiliki kekuatan maka berhati-hatilah dengan pikiran kita.

Artikel tersebut menyarankan agar kita fokus dulu pada pikiran dan perasaan kita. Fokus dulu pada apa yang kita inginkan. Rasakan keinginan kita itu sampai kita yakin untuk bertindak. Semoga bener dalam menafsirkannya nih.

Dengan kata lain, saya menyimpulkan bahwa kita harus bahagia dulu sebelum bertindak. Pikir dan rasakan apa yang kita inginkan sampai mengalami getaran dan perasaan nyaman serta yakin. Getaran positif ini pada gilirannya akan bersinergi dan bergetar dengan seluruh alam semesta untuk membantu kita mencapai keinginan kita tersebut.

Rasakanlah kesuksesan dan kebahagiaan itu sekarang, saat ini. Bersyukurlah. Kemudian bertindaklah dengan penuh keyakinan. Tidak akan ada rasa lelah, frustasi dan menghitung-hitung. Ikhlas bekerja dan bersinergi dengan alam sampai nanti kita mendapatkan keinginan kita. Fokuslah pada yang kita inginkan. Yakinlah.

Teman-teman yang pernah membaca teori “Law of Attraction” ataupun “Quantum Iklas” pasti dengan mudah mengerti akan hal ini. Para motivator nasional dan internasional pun sudah membicarakan teori-teori ini. Teman-teman yang sudah pernah membaca buku ataupun mendengar para motivator tersebut di seminar-seminar pasti paham.

Berpikir besar (Think Big) bukan menjadi masalah kalau begitu. Donald Trump saja pernah memberikan tips untuk “berpikir besar dan anda akan menjadi besar. Hambatan utama adalah ketika anda berpikir hal tersebut tidak dapat dilakukan.”

Sandiaga Uno melalui blog-nya juga menyatakan bahwa beberapa tokoh sukses seperti Soichiro Honda (Honda), Steve Job (Apple), Tony Fernandes (Air Asia), bahkan dirinya sendiri semua memiliki persamaan, yakni bermula dari keinginan untuk memberikan kontibusi kepada masyarakat (sesuatu yang besar) bukan mengejar kekayaan sebagai tujuan utama.

Mintalah. Yakinlah bahwa doa kita sudah terkabul. Rasakanlah bahagia. Saat ini dan selalu dalam bertindak. Bersyukurlah dengan bermacam cara yang baik. Tidak harus menunggu sukses baru bahagia. Semuanya ada di pikiran. Kita tinggal membalikkan pikiran dan perasaan kita untuk bahagia.

Kayaknya asyik juga kalau mencoba teori ini. Sebagai seorang muslim saya malah teringat kembali akan hadist Rasulullah berikut “Innama A’malun Bin Niyat”. Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat (HR Bukhari). Dahsyat bukan? Ternyata semuanya sudah diterangkan langsung oleh Rasulullah SAW dulu sekali. Ayo deh kita praktekkan.

Artikel “Doing without Doing” ada disini

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s