Gaya Presentasi dengan Bercerita

presentation1

Setiap kali ada kegiatan workshop di Kantor setiap kali itu pula timbul rasa apatis. Paling-paling si presenter hanya akan menampilkan presentasi di power point menggunakan banyak bullet points dengan huruf kecil-kecil sehingga bikin mata lelah dan mengantuk.

Sudah itu, mereka hanya akan membacakan  kembali bullet points itu pada saat melakukan presentasi dan kita hanya mendengarkan tanpa mengerti lebih dalam pesan apa sebenarnya yang hendak disampaikan si presenter. Rasa ngantuk bisa ditahan dalam 10 menit pertama, tetapi kalau sudah lewat dari 15 menit mata ini tidak bisa lagi ditahan. Selain rasa ngantuk yang datang, rasa bosan dan jenuh menjadi teman berikutnya. Konsentrasi tidak lagi ke presenter, tetapi mulai asyik mencari aktivitas sendiri agar rasa bosan itu bisa segera pergi. Handphone menjadi teman setia untuk menghabiskan waktu selama presentasi, atau kalau boleh membuka lap top akan lebih terpenuhi hasrat untuk menghindari rasa bosan itu.

Menjadi kebiasaan bersama anda dan saya juga barang kali, slide presentasi baru dibuat begitu mendekati hari pelaksaan presentasi. Maklum, kita bukan orang pemasaran yang setiap hari dihadapkan pada kegiatan presentasi dan begitu ahli dalam membuat slide. Kita sudah mencoba membuat presentasi yang lebih bagus lagi, tetapi ternyata butuh ilmu tambahan yang wajib dipelajari dulu dengan konsekuensi pembuatan slide akan lebih lama lagi padahal waktu sudah sangat mepet. Makanya tidak heran, slide untuk presentasi yang dibuat team saya pun menjadi sekedar bullet points lagi.

Slide presentasi dalam bentuk bullet points harus direview si Bos pula. Ini juga menjadi kendala. Si Bos kadang masih berorientasi kepada bullet points dan reviunya kadang suka lama. Beda orang beda pemikiran meskipun akhirnya slide bullet points kita bisa disetujui atasan. Namun, saking jemunya dengan slide bullet points, saya bertekad untuk mencoba gaya presentasi baru. Saya hanya akan mengambil satu atau dua point paling penting saja di slide. Selebihnya, saya akan bercerita dan memberikan ilustrasi lebih detail disertai contoh-contoh nyata perihal kenapa saya mengangkat point tersebut dalam presentasi saya.

Dalam dua atau tiga hari  sebelum hari H,  saya mencari dan melatih apa yang mau saya ceritakan sebagai ilustrasi dari bullet points di slide saya nanti. Hal itu saya lakukan terus dimana ada kesempatan. Saat pagi pergi ke kantor, saat istirahat makan siang, saat pulang ke rurmah. Bahkan saat berada di kamar mandi. Kata orang harus banyak berlatih biar menjadi pakar. Ini terus yang saya lakukan selama beberapa hari. Bukan berlatih di depan cermin, tetapi cuma membayangkan saja mau bicara apa saat presentasi nanti. Semoga berbicara di depan umum nanti bisa seperti seorang leadership yang baik 🙂

Tibalah saat saya harus melakukan presentasi. Yakinlah bisa karena sudah latihan berkali-kali. Presentasi kemudian saya sampaikan dengan tahapan – tahapan sebagai berikut:

  1. Di pembukaan: memberikan penekankan pada apa yang mau disampaikan ke audiens agar mereka lebih memperhatikan presentasi saya.
  2. Di inti masalah: menyampaikan presentasi dengan lebih banyak bercerita dan memberikan contoh-contoh kasus dengan tetap memperhatikan limit waktu.
  3. Di akhir slide: memberikan kesimpulan dari presentasi saya biar audiens benar-benar memahami pesan dalam  presentasi saya.

Oke mantap sudah. Semua audiens terlihat memperhatikan. Tidak ada yang mengantuk dan sesi tanya jawab cukup ramai karena setiap audiens ikut serta secara aktif memberikan pertanyaan, tanggapan ataupun menambahkan jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul. Waktu juga yang akhirnya membatasi sesi tanya jawab tersebut.

Big applause dari para audiens setelah saya menutup presentasi saya. Alhamdulillah audiens memberikan apresiasi yang baik. Bahkan dengar-dengar Direksi pun menyatakan apresiasinya melalui sang sekretarisnya buat saya. Presenter lain setelah saya malah mencontoh teknik presentasi saya. Mereka tidak lagi membacakan satu per satu point-point yang ada di slide, tetapi mencoba mengambil intisarinya saja kemudian memberikan cerita dan contoh kejadian yang pernah ada atau dihadapi di dalam pekerjaan mereka sehari-hari.

Saya yakin teman-teman semua juga bisa menerapkannya. Gaya presentasi dengan bercerita sepertinya lebih menarik untuk didengar apalagi kalau kita bisa menyisipkan humor dalam cerita kita. Betul tidak? Coba ingat waktu kita kecil dulu. Anda pasti serius menyimak setiap cerita dari Bapak/ibu kita. Bahkan sampai sekarangpun, seseorang yang pandai bercerita selalu menyita waktu kita untuk didengarkan. Bila Anda ingin belajar lebih dalam lagi mengenai bagaimana melakukan presentasi dengan Slide Inspiratif yang menarik silahkan klik di sini.

Iseng-iseng Googling. …Wow … ternyata gaya presentasi dengan bercerita merupakan salah satu gaya presenter hebat “Steve Jobs”. Dia memang selalu memasukkan unsur bercerita dalam presentasinya sehingga mampu menyedot perhatian dari para audiens. Hebatnya lagi dia bisa bercerita dengan slide yang sangat visual. Orang akan melihat slide Steve Jobs dengan antusias, tetapi mereka bisa tetap memperhatikan Steve Jobs berbicara. Tidak ada orang yang terpaku pada slide. Semua tetap asyik memperhatikan si pembicara. Tidak ada yang mengantuk dan tidak memahami pesan apa yang disampaikan oleh si presenter.  Teknik presentasi Steve Jobs akan dibahas lebih lanjut ya.

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s