Menjadi Negosiator yang baik

Business meeting.

Negosiasi akan selalu kita lakukan dimanapun juga.

Secara definisi, negosiasi berarti melakukan proses tawar-menawar melalui perundingan guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak lain.

Perhatikan kata kesepakatan. Negosiasi yang baik akan berujung pada kesepakatan kedua belah pihak tanpa ada rasa kalah menang.

Sesuatu yang “Pas” memang sangat mengasyikan. “Pas” liburan Hari Nyepi kemarin bisa nonton TV pagi-pagi di rumah, “Pas” ada acara motivasi yang membahas negosiasi. “Pas” kebetulan sekali, ada pertemuan sehari sebelumnya di kantor untuk negosiasi dengan supplier.

Saya jadi punya ide untuk membuatnya dalam tulisan supaya nempel terus di memori.

Dari ilmu sang Motivator di TV dan tambahan dari beberapa artikel, sepertinya ada 3 hal yang bisa saya simpulkan sebagai bekat dalam melakukan negosiasi.

Banyak tulisan yang lebih detail barangkali, tetapi tiga hal ini semoga lebih mudah diingat dan dipraktekkan.

Singkat kata, ketiga  hal yang harus kita ketahui dan lakukan sebagai kunci sukses tidaknya kita dalam bernegosiasi adalah:

1. Persiapan dan Mindset yang Baik

Sukses tidaknya kita dalam melakukan negosiasi sangat tergantung dari seberapa baik kita melakukan persiapan.

Persiapan sebelum negosiasi adalah penting. Mengetahui siapa teman bicara kita saat negosiasi akan membuat kita lebih siap melakukan negosiasi.

Coba cari tahu target dari teman bicara kita nanti. Siapkan data dan analisa apa saja yang bisa kita ajukan dalam proses negosiasi nanti.

Dimana posisi Anda nanti dan alternatif-alternatif apa yang bisa diajukan.

Lakukan pengenalan pendahuluan terhadap teman bicara kita, target yang hendak mereka capai, sudah itu siapkan target dan strategi alternatif apa yang akan kita tawarkan.

Ingatlah aturan bahwa everything is negotiable. Tidak ada yang tidak bisa dinegosiasikan.

Deadlock dan ketiadaan titik temu dalam bernegosiasi mungkin saja terjadi, tetapi hal tersebut disebabkan karena faktor ketidaksukaan teman bicara kita kepada kita.

Win-Win-Win solution harus menjadi hasil akhir dari setiap proses negosiasi. Inilah mindset atau pola pikir yang harus kita ingat selalu.

2. Jadilah Pendengar Aktif

Saat negosiasi, kita fokuskan perhatian kepada teman bicara kita.

Tunjukkanlah bahwa kita memberikan perhatian dan mendengarkan mereka.

Dengan mendengarkan, kita bisa menangkap bahasa tubuh, intonasi kata dan gerakan isyarat dari teman bicara kita sehingga bisa diketahui pesan dan sasaran apa yang tersirat dari teman bicara kita.

Teman bicara kita pasti memiliki tekanan dan target tertentu. Dengan mendengarkan, kita dengan mudah menangkap pesan itu dan dapat memilih strategi atau alternatif apa yang akan memberikan win-win-win solution pada akhirnya.

Pendengar yang baik berarti mendengarkan dengan empati. Tidak melakukan interupsi sebelum teman bicara selesai berbicara dan memberikan bahasa tubuh yang bisa ditangkap oleh teman bicara bahwa kita memang serius mendengarkan.

Berikan umpan balik atas apa yang dinyatakan teman bicara kita tanpa cenderung menekan dan memaksakan skenario akhir menurut kita.

Seorang negosiator yang baik akan bersikap indiferent terhadap hasil akhir agar tidak terkesan ingin menang sendiri.

3. Jalinlah Hubungan dan Kedekatan

Kita akan mudah bernegosiasi dengan orang yang sudah kita kenal.

Coba deh, dengan siapa kita akan selalu mudah melakukan negosiasi? Pasti dengan keluarga, kerabat dekat, teman dan sahabat kita. Orang-orang yang sudah kita kenal dan tahu betul watak dan sikapnya.

Inilah tujuan dari menjalin hubungan dan kedekatan dalam bernegosiasi. Bagaimana kita menciptakan suasana saling terhubung antara kita dan teman bicara kita saat negosiasi berlangsung dalam waktu singkat? Apa bisa dilakukan?

Para ahli berkata bisa.

Gunakan cara yang dikenal dengan sebutan mirror dan modelling. Cara ini percaya tidak percaya bisa membuat kita lebih cepat memiliki kedekatan dengan teman bicara kita.

Secara singkat, mirror dan modelling mudahnya adalah bercermin dan menyamakan pikiran, sikap dan bahasa tubuh menjadi sama dengan teman bicara kita. Perhatikan dan lakukan hal yang sama dengan gaya bahasa, volume suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, gerak isyarat, prinsip hidup atau bahkan gaya tertawa dari teman bicara kita.

Misalkan, perhatikan dialek teman bicara kita.  Bila dia banyak menggunakan dialek daerah tertentu dan kebetulan kita memiliki pengetahuan akan dialek tersebut maka gunakanlah. Perhatikan volume suaranya, bila dia lemah lembut atau cukup lantang bersuara maka lakukanlah lembah lembut ataupun lantang suara kita saat berbicara.

Atau, lihat gaya duduk teman bicara kita. Bila dia terkadang meletakkan kedua tangannya di meja atau menyilangkannya di depan dada  maka pada suatu kesempatan kita lakukan hal yang sama untuk meletakkan tangan atau menyilangkan tangan di dada.

Begitu kira-kira, pengertian dari mirror dan modelling. Lakukan dengan bijak dan sesuai dengan porsinya agar  tidak membuat risih dan dianggap aneh oleh teman bicara kita.

Kesimpulannya, persiapan yang baik, menjadi pendengar yang baik dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan teman bicara akan membuat kita menjadi negosiator yang baik.

Semoga bermanfaat dan silahkan bila berkenan menyampaikan komentar atau men-share tulisan ini.

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s