Berpose 2 Menit Kembalikan Energi Anda

171087-u2-band-top-20-on-forbes-celebrity-100-list

Apakah Anda sudah mengetahui bahwa bahasa tubuh ternyata sangat mempengaruhi bagaimana kita bertindak dan bisa mengubah energi kita menjadi lebih positif? Suatu penelitian berikut memberikan pemahaman dan manfaat untuk kita dalam menyadari pentingnya bahasa tubuh.

Bahasa tubuh atau bahasa non verbal sebenarnya adalah bagian dari cara kita berkomunikasi dan menyampaikan pesan melalui isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, suara, postur dan gerak tubuh. Bahasa non verbal ini dipercaya lebih banyak kita gunakan daripada bahasa verbal saat kita melakukan komunikasi.

Salah satu bahasa tubuh yang sangat penting tetapi kita tidak sadari manfaatnya adalah berpose. Berpose seperti grup Band U2 diatas pasti bisa kita lakukan karena sebenarnya berpose adalah sifat bawaan kita.

Seseorang dapat berpose meskipun ia belum pernah melihat bagaimana orang lain berpose. Seseorang juga dapat berpose walaupun dia belum pernah diajarkan sebelumnya.

Amy Cuddy, seorang Professor Harvard Business School membagikan ilmu-nya perihal berpose ini dan bagaimana bahasa tubuh yang satu ini bisa membawa Anda menjadi seseorang yang lebih baik, berenergi dan percaya diri.

Menurut Amy, orang kerap kali memperlihatkan High Power Poses dan Low Power Poses dalam berpose. High Power Poses berarti orang tersebut bersikap terbuka, bahagia dan penuh percaya diri. Sebaliknya, Low Power Poses berarti orang tersebut sedang memberikan isyarat bahwa dirinya lelah, merasa lemah, tak berdaya dan tertutup.

High Power Poses

High Power Pose

Low Power Poses

Low Power Pose

Bahasa Tubuh Mempengaruhi Anda

Timbul pertanyaan selanjutnya. Bila bahasa tubuh bisa digunakan untuk membuat orang lain memahami siapa kita dan apa yang kita rasa, apakah bahasa tubuh juga bisa mengendalikan fungsi tubuh, perasaan dan tindakan kita?

Amy dan koleganya penasaran ingin mengetahui jawaban perihal tersebut. Dia dan rekan-rekannya lalu melakukan sebuah tes di mana mereka meminta beberapa kelompok orang melakukan High Power Poses selama 2 menit kemudian meminta kelompok orang lainnya melakukan Low Power Poses juga selama 2 menit.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hanya dalam 2 menit, mereka yang melakukan High Power Poses memiliki risk tolerance yang melonjak naik semetara mereka yang melakukan Low Power Poses memiliki risk tolerance yang cenderung turun.

Perubahan lain juga terjadi pada kimia tubuh masing-masing kelompok. Hanya dalam 2 menit, kadar testosteron High Power Poses naik 20%, sementara kadar testosteron Low Power Poses turun 10%.

Perubahan pada hormon testoteron tersebut kemudian diimbangi dengan perubahan pada hormon kortisol pada arah yang berlawanan. Hormon kortisol High Power Poses turun sementara hormon kortisol Low Power Poses naik.

Hormon testoteron berhubungan dengan semangat dan kendali stres. Hormon kortisol berhubungan dengan stres dan galau.

Perubahan kimia tubuh tersebut menyimpulkan bahwa orang dengan High Power Poses menjadi lebih semangat dan tidak stres setelah 2 menit berpose. Sebaliknya, orang dengan Low Power Poses menjadi lebih stres setelah 2 menit berpose.

Kesimpulannya, bahasa tubuh memang mempengaruhi pikiran kita. Pikiran akan mempengaruhi tindakan dan tindakan pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja kita.

Bahasa tubuh tidak lagi hanya sekedar cara bagaimana kita menyampaikan pesan pada orang lain, tetapi bahasa tubuh terbukti bisa menjadi alat kontrol kinerja kita.

Saya baru menyadari kenapa dulu para orang tua atau guru-guru kita meminta agar kita duduk dengan posisi tegak, kaki sejajar menapak tanah dan tangan diletakkan dengan benar diatas meja. Ternyata, biar kita tetap semangat dan tidak mengantuk dalam belajar. Ini sepertinya memiliki kesamaan dengan hasil penelitian Amy.

Pengalaman nyata sebenarnya saya rasakan dulu saat melakukan interview kerja dan harus menunggu giliran dipanggil. Posisi duduk saya menjadi low power poses karena bosan menunggu kelamaan. Akibatnya, saya sudah tidak semangat lagi menjawab pertanyaan – pertanyaan perihal pekerjaan pas tiba giliran saya diiterview. Padahal seharusnya, saya tetap menuggu dengan high power poses biar tetap terjaga semangat dan antusias saya melakukan interview itu.

Penutup

Berangkat dari penelitian tersebut, kita disarankan untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Lakukan 2 menit High Power Poses sebelum kita melakukan sesuatu atau dihadapkan pada suatu tantangan tertentu. Cari ruangan yang bisa menjadi tempat Anda untuk melakukan High Power Poses sebebas dan senyaman kita.
  2. Lakukan High Power Poses secara natural tidak berlebihan saat bekerja, saat melakukan presentasi, saat berdiskusi dengan bos, saat berbicara di depan orang banyak dan saat ada kesempatan lain dimana kita harus mencerminkan sikap seorang pemimpin agar tingkat hormon testoteron dan kortisol Anda terjaga stabil.
  3. Latihlah secara terus menerus dan jadikan kebiasaan baik.

Sebuah hasil studi yang sangat bermanfaat dan patut dicoba bukan? Saya malah punya ide karena hasil penelitian ini mencerminkan bagaimana sebenarnya fisiologi tubuh itu memberikan pengaruh pada kinerja kita seperti presentasi Dr Alan yang saya tulis lalu disini. Nah. Bagaimana  saat kita melakukan 2 menit power poses, kita juga melakukan cara bernapas yang baik?

Obama-superman

Selamat mencoba. Bila berkenan menshare tulisan ini dan Anda bisa melihat video presentasinya Amy Cuddy di you tube and ted.com.

4 thoughts on “Berpose 2 Menit Kembalikan Energi Anda

  1. Pingback: Berpose 2 Menit Kembalikan Energi Anda | sahsahsaja's Blog

  2. Pingback: PD (copas) | sahsahsaja's Blog

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s