Tiga Hal Penanda Kecerdasan Emosional

Sweet Emotion

Istilah emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosional sudah sering kita dengar. Kecerdasan emosional konon lebih tinggi tingkatannya daripada kecerdasan intelektual karena otak pandai saja bukan merupakan syarat seseorang untuk sukses.

Kita bisa jadi sangat pintar, tetapi bila tak bisa mengontrol emosi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain maka kesuksesan tersebut tidak akan muncul. Begitu kira-kira pernyataan dari para pengagas EI.

Lalu bagaimana agar EI kita tinggi? Adakah praktek sederhana dalam EI yang bisa kita latih dan implementasikan dengan mudah?

Pelajaran sederhana tetapi sangat apik perihal EI saya dapatkan dari video presentasi Hermanto Kosasih dalam suatu acara yang diselengarakan oleh Ikatan Alumni ITB. Sungguh suatu kedermawan  dari para alumni ITB, video presentasi tersebut bisa kita saksikan di youtube meskipun saya bukan alumni ITB.

Satu hal yang membuat saya langsung sangat tertarik adalah bagaimana EI itu bisa di pahami menjadi 3 tahapan kunci yang bisa kita latih agar kecerdasan emosi kita menjadi lebih baik lagi yakni : know yourself, choose yourself  dan give yourself.

Ketiga tahapan tersebut lebih lanjut juga bisa kita pelajari dari Joshua Freedman seorang spesialis perihal EI. Anda bisa mengunjungi website-nya bila tertarik nanti.

Sedikit berbagi hasil nonton dan baca perihal EI, kira-kira cara sederhana yang bisa kita lakukan dan menjadi penanda bahwa kita memiliki EI yang baik adalah bila kita bisa melakukan tahapan berikut:

1. Kenali Apa Yang Anda Rasa dan Bagaimana Polanya?

Rasa emosi: marah, sedih, gembira, bahagia dan seterusnya itu sesungguhnya merupakan respon kita terhadap suatu kejadian tertentu. Dan, setiap orang bisa memberikan respon yang berbeda-beda meskipun mengalami kejadian yang sama.

Anda bisa jadi akan sangat marah saat orang lain tidak mau mendengarkan pendapat Anda. Namun, teman Anda bisa jadi malah sangat sedih bila pendapatnya tidak didengar.

Apa yang kita rasakan itu tidak pernah sama. Bahkan apa yang kita rasakan itu bisa jadi merupakan kombinasi dari beberapa rasa.

Saat Anda mengantar dan menemani anak sakit ke dokter, apa yang Anda rasakan? Pasti ada sedih dan rasa kuatir. Kemudian saat Anda tahu bahwa dokter anak Anda telat datang, bagaimana perasaan Anda? Tentu saja marah, sedih dan kuatir campuraduk jadi satu.

Marah dan sedih karena dokter telat dan anak sedang sakit, sekaligus kuatir bagaimana kalau dokter tersebut memang tidak bisa datang.

Selanjutnya, apa yang kita rasakan sebagai emosi akan membentuk suatu pola reaksi tertentu yang juga berbeda-beda untuk setiap orang. Anda mungkin akan berteriak dan  memaki-maki saat orang lain mengejek Anda. Namun, teman  saya justru malah menjadi pendiam dan tidak mau berbicara bila merasa orang telah menghinanya.

Anda mungkin akan marah-marah dan mengumpat saat Anda terjebak kemacetan. Orang lain mungkin akan segera membuka kaca mobil dan mulai menyalakan rokok saat terjebak di kemacetan.

Pola setiap orang akan berbeda-beda.

Jadi, masing-masing kita punya emosi, kombinasi emosi dan pola tertentu dalam menyikap suatu kejadian. Apakah Anda sudah mulai dan bisa mengenalinya?

Dan, adakah pilihan lain?

2. Adakah Pilihan Lain?

Bila kita mampu mengenali emosi dan pola reaksi kita maka kita bisa lebih waspada dan mampu memilih alternatif lain yang sebaiknya kita lakukan.

Pernahkan Anda merasakan amarah yang begitu memuncak tetapi kemudian tiba tiba merasa menyesal kenapa harus marah? Pasti pernah ya.

Kok bisa  begitu?

Itu semua terjadi karena emosi sebagai respon dari kejadian tertentu sesungguhnya hanya bersifat sementara. Menurut hasil riset, emosi hanya bertahan dalam 6 detik saja. Sesudah 6 detik dia hilang. Yang tersisa hanya reaksi kita yang selama ini terbentuk dari berbagai pengalaman hidup.

Saat Anda sedang menonton  film drama yang sedih di bioskop, Anda bisa saja tiba-tiba ikutan sedih menyaksikan kegigihan si aktor menghadapi penderitaan hidupnya, tetapi dalam 6 detik kemudian Anda tidak akan menangis karena selama ini Anda diajari untuk tidak mudah mengeluarkan airmata. Sementara itu, orang yang duduk di sebelah Anda bisa jadi sudah menangis tersedu-sedu dalam 6 detik itu.

Percaya atau tidak, emosi Anda akan menjadi semakin kuat bila Anda semakin fokus. Semakin Anda fokus maka semakin marah, sedih, gembira dan seterusnya yang akan Anda rasakan. Sebaliknya, emosi Anda akan reda bila Anda mengubah fokus Anda.

Coba saja saat Anda merasa sedih, ganti fokus Anda kepada sesuatu hal yang mengembirakan. Fokus dan semakin fokuslah pada rasa gembira itu maka rasa sedih Anda akan sirna.

Itulah mengapa sebagian orang menyarankan agar kita berhenti sejenak dan menarik napas panjang saat merasakan emosi. Atau kita bisa mengubah posisi kita saat sedang emosi sebagaimana hadist nabi Muhammad SAW  bahwa “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Amy Cuddy telah membuktikan bahwa posisi dan bahasa tubuh bisa mempengaruhi fisiologi tubuh Anda dalam tulisan lalu disini. Dan, Dr Alan telah membuktikan perihal pentingnya bernapas yang baik untuk mengatur fisiologi tubuh Anda dalam tulisan lalu disini.

Selalu ada pilihan saat Anda sedang merasakan emosi. Kita mau marah, sedih atau gembira itu semua terserah kita karena sesungguhnya kita bisa memilih bagaimana aksi-reaksi kita kalau kita tahu apa sesungguhnya yang kita cari.

3. Apa Yang Sesungguhnya Kita Cari?

Semua akan kembali kembali ke pertanyaan mendasar: Apa sesungguhnya yang ingin Anda berikan agar kehidupan Anda menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang banyak tentunya.

Anda mau marah? Silahkan saja, tetapi untuk apa? Apakah kalau tidak marah maka tujuan hidup Anda untuk bisa jadi manager lantas hilang tiba-tiba?

Anda dianggap tidak bekerja dengan baik? So what gitu lho? Apakah itu berarti keinginan Anda untuk bisa dipromosi setiap tahun pasti tertutup? Belum tentu.

Anda marah karena apa dan Anda sedih karena apa? Apakah dengan marah dan sedih maka masalah selesai?

Oke-oke saja boleh bila Anda harus marah, tetapi apakah marah Anda itu memang sesuatu yang akan menyelesaikan dan memperbaiki keadaan?

Jadi, kaitkan selalu pilihan Anda dengan tujuan atau impian jangka panjang Anda setiap kali dihadapkan pada emosi tertentu. Optimis, tidak semua kejadian itu akan  membuat Anda menjadi runtuh.

Kesimpulan

Teknik sederhana bagaimana melatih mengontrol emosi yang bisa kita praktekkan sehari-hari kurang lebih seperti diatas.

Belajar EI sesungguhnya adalah belajar bagaimana kita mengontrol jiwa kita.

Hal ini sebenarnya sudah selalu kita latih di bulan Ramadan saat kita sedang beribadah shaum. Bagi saudara-saudara muslim sudah pasti akan harus selalu melakukannya. Dan, berpuasa sebenarnya adalah salah satu sarana untuk bisa punya EI tinggi.

Emosi adalah suatu respon tertentu terhadap sesuatu. Kita bisa merasakannya dan dalam batas tertentu dapat mengendalikannnya.

Namun, pada tingkatan yang lebih tinggi lagi kita cuma bisa berserah diri saja kepada Tuhan. Sebab, terkadang emosi bisa begitu kuat dan kita tidak bisa membendungnya lagi.

Sekuat apapun kita, terkadang masih kalah saja oleh gejolak emosi itu. Cuma pertolongan Allah yang bisa mengubahnya bukan?

Demikian saudara-saudaraku. Dipikir-pikir sebenarnya kita sudah sering melatih EI kita, Kenapa lagi harus asing dengan istilah EI? Semoga berkenan dan bermanfaat khususnya untuk saya pribadi.

Photo Credit: Damian Gadal

7 thoughts on “Tiga Hal Penanda Kecerdasan Emosional

  1. Artikelnya dasyat Pak..
    Cuma saya mau nanya Pak.. kalau sedang disakiti misalkan melaui ucapan dan perbuatan orang lain, saya belajar untuk memunculkan afirmasi-afirmasi positif di dalam otak, namun dalam hati masih terasa rasa sakitnya Pak..
    kira2 bagaimana cara menetralkan/ menghilangkan perasaan kesal/ kecewa dalam hati karena disakiti Pak?
    Mohon bimbingan Bapak, agar bisa menjadi orang yang lebih positif 🙂
    Terima kasih ..

    • Hallo Tonii, terima kasih sudah baca artikelnya. Ya memang ada beberapa ahli sudah bilang kalau afirmasi positif kadang tidak cukup. Jadi, berikan afirmasi positif lalu berikan juga alasan kenapa kita tidak perlu kesal dan kecewa.

      Dengan menemukan alasan kenapa kita harus menetralkan/menghilangkan perasaaan kesal/kecewa, biasanya otak akan lebih bisa menerima. So…. temukan alasannya…

  2. Pingback: Negosiasi Harga dan Seni Membujuk | The Leader is YOU

  3. Wah artikel ini berguna sekali untuk mengukur tinggi EI saya. Kebetulan saya orangnya susah untuk emosi, jika ada sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang benar-benar membuat saya marah, saya lebih sering diam dan tidak marah-marah atau melakukan tindakan lain. Kira-kira EI saya bagaimana jika seperti itu ya? Hehe

    • Hehehe… ada beberapa test EI bisa dicoba. Rian memiliki pola bahwa kalau marah ya diam. Kemudian apakah dengan diam itu merupakan alternatif terbaik? tentunya bisa dianalisa lagi sama Rian. Terima kasih sudah mampir membaca dan memberikan comment ya.

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s