Kunci Utama Anda Dalam Berkomunikasi

4773742888_d057e55789_z

Bila ada yang bertanya perihal kunci utama dalam berkomunikasi maka Anda bisa menjawab pertanyaan tersebut dalam berbagai versi jawaban. Namun, tahukah Anda apa kunci utamanya? Kunci utamanya ternyata cuma satu, yakni berpikiran terbuka.

Bebaskan pikiran dari ketidakfokusan yang timbul dari rasa malu, rasa canggung dan rasa minder. Bebaskan pikiran dari opini dan penilaian Anda terhadap orang lain. Bebaskan juga pikiran Anda dari kasak kusuk menangapi reaksi orang terhadap Anda.

Banyak dari Anda tentu sangat sensitif terhadap sikap orang lain sehingga malas untuk berbicara dengan orang lain.

Banyak dari Anda sudah bisa memulai percakapan dengan orang lain, tetapi ditengah-tengah percakapan merasa menyesal berbicara dengan orang tersebut karena sikapnya datar dan tanpa ekspresi.

Banyak juga dari Anda yang sudah lama berbicara, tetapi kemudian merasa tidak ada atau kehabisan bahan untuk melanjutkan pembicaraan.

Pengalaman-pengalaman tersebut saya rasakan dan alami sendiri juga pastinya.

Padahal kalau kita mau menyimak, itu semua kita lakukan karena hakekatnya kita memang cenderung untuk mementingkan diri kita sendiri. Kita lebih memilih untuk mendengarkan suara, asumsi, penilaian, tanggapan dan perasaan kita sendiri yang berkecamuk di otak tanpa mau bersikap terbuka dan membebaskan otak kita dari itu semua.

Pada kesempatan lain, kita justru malah begitu memperhatikan orang lain sampai begitu stress dan  gugup saat bicara dengan orang tersebut, apalagi bila harus berbicara di depan umum. Suatu hal yang wajar saja sesungguhnya.

Namun, percaya atau tidak? Kita bisa tertipu oleh itu semua karena kita memang rapuh dan memiliki keterbatasan. Saking asyiknya dengan pikiran kita, maka kita akan kehilangan kemampuan untuk mendeteksi atau mengenali perubahan.

Hal tersebut bisa terjadi kapanpun dan dimanapun saat kita sedang berkomunikasi. Dan, suatu percobaan pernah dilakukan oleh Simons dan Levin yang diberi nama “door study” untuk membuktikannya.

Percobaaan Simons dan Levin memperlihatkan fenomena yang disebut dengan “change blindness” yakni, ketidakmampuan mengenali sesuatu yang berubah secara tidak terduga dalam dunia nyata.

Percobaan tersebut dilakukan dengan menempatkan seseorang sebagai aktor, katakan saja si A, untuk bertanya perihal alamat gedung yang dia cari kepada pejalan kaki di sekitar kampus. Mereka berbicara dalam beberapa detik kemudian saat sedang asyik berbicara, tiba-tiba lewat dua orang membawa pintu berjalan ditengah-tengah mereka.

Si A kemudian digantikan oleh si B, salah seorang dari dua orang yang membawa pintu tadi. Dan, apa yang terjadi? Si pejalan kaki tidak bisa membedakan bahwa si A sudah berganti jadi si B. Mereka lanjut saja berbicara perihal alamat gedung tujuan tadi. Padahal si A dan si B itu memakai jaket yang berbeda, tinggi badannya berbeda, apalagi suaranya sudah pasti berbeda.

Biar lebih menarik dan mudah memahami silahkan Anda saksikan dulu videonya, berikut ini:

Bagaimana para sahabat sekalian? Sebagian Anda mungkin pernah menyaksikan acara komedi seperti percobaan diatas ya? Memang benar, ide awalnya konon memang terinspirasi dari acara komedi tersebut. Namun, Simons dan Levin benar-benar melakukannya secara serius dan terukur.

Bayangkan, dari 15 pejalan kaki yang dijadikan percobaan dengan umur bervariasi dari 20 sampai 65 tahun, hampir lebih dari setengahnya tidak bisa menyadari bahwa si A sudah berganti jadi si B yang penampilan dan suaranya sudah jelas berbeda.

Nah, kita saksikan bersama para sahabat sekalian bahwa Anda mungkin bisa berkata bahwa Anda bisa ingat semua kejadian, tetapi percobaan “door study” itu memberikan kesimpulan bahwa Anda belum tentu bisa ingat semua detail kejadian dalam kehidupan Anda. Apalagi detail mengenai orang yang baru saja berbicara dengan Anda.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satunya itu tadi bahwa kita lebih fokus pada sesuatu yang lain. Apa yang kita fokus kepadanya akan menyebabkan yang lain menjadi tidak terlihat.

Ekspetasi bisa menjadi penyebab lainnya. Otak kita sudah terbiasa bahwa tidak mungkin terjadi perubahan terhadap orang yang sedang berbicara dengan Anda. Padahal hal apapun bisa terjadi bukan?

Hasil percobaan tersebut mendukung pernyataan dari Igor, bahwa untuk bisa menjalin komunikasi baik dengan siapapun maka Anda harus “having a friendly mindset” terlebih dahulu. Sudah itu, bebaskan pikiran Anda dari ekspetasi yang macam-macam karena itu membuat Anda menjadi terbatas.

Pembahasan kali ini mudah dipahami, tetapi sulit dilakukan.  Kita harus sering-sering mempraktekkannya dalam setiap kesempatan. Begitu kata Vanessa Van Edwards, salah seorang behavior investigator.

Alhamdulillah, dapat ilmu baru setelah lama tidak menulis. Semoga bermanfaat untuk kita semua ya. Ayo sama-sama kita praktekkan.

Photo credit: Wesley Fryer

Videos courtesy: Simons & Levin

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s