Bijaksana Dengan Kata “Tetapi”

2250896821_230986a7a4_b

Berhati-hatilah dalam memilih kata-kata karena salah memilih kata bisa bikin orang kecewa. Maksud hati ingin memuji yang terjadi malah bikin sakit hati.

Begitulah nasehat orang bijak yang sering kita dengar. Namun, sudahkan Anda menyadari efek berbahaya dari penggunaan kata “tetapi” dalam konteks tertentu?

Hal ini dibahas detail oleh Rintu Basu, pakar NLP dunia, dalam bukunya yang berjudul “Persuasion Skills, Black Book”.

Efek Bahaya Kata “Tetapi”

#1. Penghilang Makna Kalimat Sebelumnya

Anda pasti paham bahwa kata “tetapi” merupakan kata penghubung antara satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Misalkan, ada 2 kalimat : saya sudah makan” ; “saya belum minum.

Bila digabung menjadi : ”saya sudah makan, tetapi saya belum minum.

Coba perhatikan bahwa makna “sudah makan” jadi hilang karena kata “tetapi”

Orang mendengar bahwa yang ditekankan adalah “belum minum”-nya.

Tak perduli “sudah makan”-nya. Makan apa dan dimana tidak berarti lagi.

Yang diperhatikan adalah kondisi “belum minum”-nya.

#2. Selalu Negatif Pada Akhirnya

Lalu apa yang ada dalam benak Anda bila mendengar kalimat-kalimat berikut ini?

”Oke pekerjaan kamu bagus, tetapi masih ada yang harus diperbaiki.”

”Kamu boleh cuti, tetapi HP jangan dimatikan selama cuti.”

”Silahkan pesan makan sesukanya, tetapi bayar sendiri-sendiri ya!”

Inilah bahaya kedua dari kata “tetapi”, yaitu selalu diikuti oleh kata-kata negatif atau “bad news”.

Enak didepan, nga enak udahannya.

Begitulah yang Anda rasakan bukan?

#3. Pujian Setengah Hati

Kata “tetapi” secara sadar atau tidak sering digunakan untuk memberikan penghargaan atau pujian yang setengah hati.

Contoh:

“Hasil kinerja Anda sangat baik, tetapi ada hal yang harus diperbaiki.”

Bos Anda bermaksud memuji Anda dan menyampaikan pesan agar Anda lebih giat lagi bekerja.

Namun, Anda sebagai orang yang dipuji akan merasa kecewa sebab masih ada yang harus diperbaiki lagi karena yang direspon oleh pikiran Anda adalah kata setelah kata “tetapi”.

Apalagi kalau kemudian Anda mendengar banyak sekali yang harus diperbaiki.

Contoh:

“Hasil kinerja Anda sangat baik, tetapi banyak hal yang harus Anda perbaiki.”

Gimana ini? Kinerja sudah baik tetapi banyak hal yang harus diperbaiki.

Itulah bahaya selanjutnya dari kata “tetapi” yang membunuh kalimat awal.

#4. Setuju Untuk Tidak setuju

Terkadang maksud baik untuk menghargai usulan atau saran dari seseorang justru menimbulkan keraguan dan kekecewaan disebabkan oleh kata “tetapi”.

Contoh:

“Saya paham dengan maksud Anda, tetapi apakah hal tersebut bisa dilakukan?”

“Busana kamu bagus, tetapi kok warnanya tidak sesuai ya?”

Mendengar struktur kalimat seperti itu, pikiran Anda hanya akan merespon bahwa usulan Anda tidak disetujui atau busana Anda tidak disukai.

Ada yang bisa lebih sopan dalam berkata:

“Saya setuju dengan Apa yang Anda kemukakan, tetapi apakah ada usulan lain?”

Meskipun kalimatnya lebih sopan, tetap saja apa yang Anda rasa adalah ide Anda tidak bisa diterima.

Bikin down, dan malas memberikan ide atau masukan lagi.

Bagaimana Mensiasati?

Bila ingin memuji atau bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang agar dia bisa lebih baik lagi, jangan gunakan kata negatif setelah kata “tetapi”.

1.Ucapkan kata-kata negatif sebelum kata “tetapi”.

Contoh:

“Hasil usaha Anda tahun ini masih perlu perbaikan, tetapi ada kemajuan yang cukup baik dibandingkan dengan tahun lalu”

2.Ganti kata “tetapi” dengan kata “dan”.

Contoh:

“Hasil usaha Anda tahun ini masih perlu perbaikan, dan saya mau menambahkan bahwa ada kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan tahun lalu karena itu hasil ini harus bisa ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.”

Dengan demikian, kalimat menjadi baik.

Jadi, mari mulai sekarang kita pergunakan kalimat dengan lebih baik kepada siapapun.

Bila harus menggunakan kata “tetapi” usahakan setelah kata tersebut muncul kata-kata positif jangan lagi negatif.

Atau, ganti saja dengan kata “dan” diiringi dengan modifikasi kalimat tertentu.

Semoga berkenan dan kiranya juga mudah untuk dipahami.

Penjelasan secara tertulis biasanya tidak bisa segera dipahami, tetapi dengan praktek dan kepedulian semua bisa menjadi mudah.

Sekarang Anda bisa perhatikan bagaimana pikiran dan perasaan Anda memberikan respon saat orang lain berbicara dengan kata “tetapi” kepada Anda tentunya.

Photo credit: Lars Plougmann

2 thoughts on “Bijaksana Dengan Kata “Tetapi”

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s