Mengenal Macam-Macam Keberatan dan Penolakan

sound-figure-198645_1280

Di dalam kehidupan, kerap kali Anda akan dihadapkan pada kondisi dimana apa yang Anda sampaikan terkadang tidak bisa langsung diterima oleh orang lain dengan begitu saja.

Para pemimpin, guru, karyawan, tenaga penjualan, warga biasa, mahasiswa dan lain sebagainya yang punya tugas menyampaikan ide, informasi, produk, jasa ataupun peraturan tertentu biasanya akan selalu menghadapi keberatan.

Yang bikin paling tidak enak tentunya adalah saat dimana Anda harus berhadapan dengan nada sinis, emosi tingkat dewa, dan ucapan-ucapan yang mencerca Anda. Seolah-olah mereka menyerang kapasitas dan kredibilitas Anda.

Sering kali juga, Anda malah ikut-ikutan emosi yang bikin kondisi menjadi tambah runyam memunculkan perdebatan dan perseteruan.

Lalu, bagaimana caranya agar Anda tidak emosi dan mampu mengatasi keberatan-keberatan tersebut dengan baik? Cara yang disampaikan oleh pak Ronny F. Ronodirjo, seorang most wanted coach and trainer of NLP, dalam suatu artikel di website unicef perihal bagaimana mengatasi keberatan bisa Anda gunakan dan jadikan pilihan favorit.

Menurutnya, Anda harus paham bahwa keberatan itu adalah suatu state of mind atau mood yang tidak positif dari teman bicara Anda. Jangan terpancing dengan pilihan kata dan nada negatif dari teman bicara Anda.

Mereka justru butuh bantuan agar mood mereka kembali menjadi positif. Oleh karenanya, apresiasi dan komunikasi yang baik adalah jalan keluarnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk bisa mengatasi keberatan dengan strategi yang baik maka Anda harus memahami tipe-tipe keberatan berikut ini terlebih dahulu:

Macam-macam keberatan 

1. Keberatan Semu

Keberatan semu adalah keberatan yang sebenarnya cuma merupakan suatu pertanyaan. Hanya saja karena kurang dikemas dengan baik maka yang muncul adalah sikap ketidakyakinan terhadap pemikiran Anda. Contoh:

“Sampai sejauh mana ide ini terbukti bisa dijalankan?….”

“Apakah sudah ada contoh keberhasilan dari pelaksanaan peraturan ini? 

“Seberapa jauh tingkat keberhasilan dari cara Anda tersebut?….”

2. Keberatan Tidak Yakin

Keberatan yang tidak yakin biasanya akan disertai dengan kata-kata “sulit”, “susah”, ataupun “tidak mungkin” terhadap ide, produk dan pemikiran Anda. Keberatan seperti ini biasanya akan dilontarkan dalam bentuk kalimat-kalimat:

“Tidak bisa…!”

“Mana mungkin ide tersebut dilakukan..!”

“Sulit sekali untuk menjalankan ide-ide tersebut…!”

Stop jangan langsung emosi. Kata-kata tersebut sebenarnya adalah petunjuk buat buat Anda. Semua kata-kata tersebut terucap karena teman bicara Anda itu belum punya pengalaman sebelumnya, ketrampilan mereka yang masih terbatas, pengetahuan yang masih minim, percaya diri yang belum ada, atau mungkin karena mereka belum tahu bagaimana cara memulainya.

3. Keberatan Karena Dibandingkan Dengan Hal lain

Keberatan tipe ini kerap kali muncul karena dua alasan: pertama, teman bicara Anda merasa bahwa ide atau gagasan Anda itu tidak penting. Ada hal lain yang lebih penting. Dan kedua, teman bicara Anda merasa bahwa ide, produk atau gagasan Anda justru malah membawa kerugian untuk mereka tidak ada manfaatnya. Contoh:

1. “Ide Anda bukan kali pertama saya mendengarnya, sudah banyak ide sama yang muncul tetapi tetap saja keadaan masih seperti ini, karena yang penting adalah…..”

2. “Iuran warga naik jadi Rp10,000 tidak ada manfaatnya malah membebani warga saja”

3. “Saya sudah pernah ditawarkan produk yang serupa dengan Anda dan ternyata di pasar harganya lebih murah tuh…”

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Keberatan ke-1

Anda bisa simak bahwa keberatan tersebut diatas hanyalah sekedar pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan penjelasan detail disertai dengan bukti-bukti pendukung yang baik dan menguatkan.

Anda tinggal beri penjelasan lebih detail kepada teman bicara Anda. Lalu sertakan bukti dan data endukung terhadap penjelasan Anda tersebut.

Keberatan ke-2

Cara mengatasi keberatan seperti ini juga mudah saja. Anda gunakan teknik klarifikasi untuk mengeksplorasi dimana sesungguhnya kesulitan itu terjadi.

Anda cari pola berpikir teman bicara Anda sehingga Anda tahu benar apa sebenarnya yang membuat sesuatu itu menjadi susah dan sulit. Dimanakah yang menyebabkan sesuatu itu jadi susah untuk dilakukan?

Bila seseorang berkata: “itu sulit dilakukan!”, maka Anda minta klarifikasi lagi dengan bahasa yang baik dan intonasi yang sopan,”dimana sulitnya, apakah bisa dijelaskan kepada saya?”.

Kalau mereka tetap menjawab singkat : “karena butuh orang!”, maka Anda minta klarifikasi lagi,”bisakan dijelaskan butuh orang untuk apa?”

Kalau dijawab: “butuh orang untuk menjalankan prosedur tersebut”. Anda bisa eksplorasi lagi: “bolehkan lebih dijelaskan, prosedur di bagian mana yang membutuhkan tambahan orang?“, demikian seterusnya sampai Anda mendapatkan gambaran apa sebenarnya yang dianggap sulit oleh teman Anda tersebut.

Keberatan ke-3 

Nah, cara mengatasi keberatan dimana ide Anda dianggap tidak penting karena dibanding-bandingkan dengan hal lain, adalah dengan melakukan teknik Frame. Kita pernah membahas perihal teknik Frame ini dalam artikel lalu disini.

Anda lakukan framing atau Anda mengemas kembali pesan Anda sedemikian rupa sehingga teman bicara Anda bisa menyetujui dan menerima pendapat Anda.

Contoh:

1. “Ide Anda bukan kali pertama saya mendengarnya, sudah banyak ide sama yang muncul tetapi tetap saja keadaan masih seperti ini, karena yang penting adalah…..”,

Maka Anda bisa jawab: “Saya setuju kalau ide ini mungkin pernah bapak dengar dan ingin menambahkan bahwa ide terbaru ini lebih fokus pada bagaimana bapak bisa mendapatkan pengetahuan bermanfaat perihal negosiasi yang tentunya akan sangat bermanfaat sekali di dalam keseharian bapak yang sering berjumpa dengan banyak orang.”

2. “Iuran warga naik jadi Rp10,000 tidak ada manfaatnya malah membebani warga saja”

Maka Anda bisa jawab: “Peningkatan iuran warga akan digunakan untuk meningkatkan kecepatan pengangkutan sampah dan penambahan tenaga keamanan dan kalau dibandingkan dengan perumahan sebelah maka bapak tinggal akan lebih nyaman dan aman tentunya.”  

3. “Saya sudah pernah ditawarkan produk yang serupa dengan Anda dan ternyata di pasar harganya lebih murah tuh…”

Maka Anda pun bisa jawab: “Harga produk ini di pasar adalah Rp150,000 dan saya tidak akan meminta Anda membayar sebesar itu, cukup dengan harga Rp50,000 saja Anda sudah dapatkan produk dengan kualitas yang sama.” 

Demikian para sahabat semua, semoga menambah wawasan kita bersama, mudah dipahami dan berkenan dihati.

Photo credit by: Pixabay

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s