Sudahkan Anda Temukan “Alasan Baik” Dari Setiap Tindakan Anda?

2929672944_4ab5b5b8b5_b

Dr. Ellen Langer, seorang psikolog sosial dari Harvard University, menyatakan bahwa bila Anda ingin meminta pertolongan kepada orang lain maka mintalah dengan memberikan alasan yang baik kenapa Anda butuh pertolongan tersebut, sebab dalam batas tertentu alasan tersebut bisa mempengaruhi seseorang.

Ceritanya begini, Dr. Ellen Langer ingin mengetahui perihal kenapa seseorang bisa bertindak secara otomatis dalam suatu rutinitas perkerjaan sehari-hari tanpa harus berpikir dan memperhatikan. Untuk tujuan tersebut, dia meminta seseorang menjadi periset dengan tugas memotong antrian orang terdepan yang mau memfotokopi suatu berkas di perpustakaan.

Dalam menjalankan aksinya, si periset ditugasi melakukan tiga kali eksperimen dimana untuk setiap eksperimen dia akan menggunakan kalimat permintaan tolong yang berbeda saat berusaha menyela atau memotong antrian di mesin fotokopi tersebut.

  • Eksperimen 1 : “Permisi, saya cuma punya 5 lembar kertas, boleh saya gunakan mesin Xerox-nya?”. (minta tolong tanpa memberikan alasan).
  • Eksperimen 2 : “Permisi, saya cuma punya 5 lembar kertas, boleh saya gunakan mesin Xerox-nya? karena saya sangat buru-buru sekali“. (minta tolong dengan alasan yang baik. Dia lagi buru-buru mungkin lagi banyak kerjaan).
  • Eksperimen 3 : “Permisi, saya cuma punya 5 lembar kertas, boleh saya gunakan mesin Xerox-nya? karena saya mau mengkopi berkas“. (minta tolong dengan alasan yang tidak jelas. Bukankan semua orang juga antri karena ingin memfotocopi?).

Ayo, dari ketiga eksperimen tersebut mana yang menurut Anda akan membuat orang yang dimintai tolong mau mendahulukan si periset? Eksperimen 1, 2 atau 3?

Ternyata hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Eksperimen 1 (yang tanpa alasan): memperoleh hasil dimana 60% orang yang disela mau memberikan gilirannya kepada si periset.
  • Eksperimen 2 (dengan alasan yang baik) memperoleh hasil dimana 94% orang yang disela mau memberikan gilirannya kepada si periset.
  • Eksperimen 3 (dengan alasan yang tidak jelas) memperoleh hasil dimana hampir 93% orang yang disela mau memberikan gilirannya kepada si periset.

Ternyata dengan adanya alasan, persentase kesediaan orang untuk mau memberikan gilirannya kepada si periset lebih tinggi daripada persentasi permintaan tanpa adanya alasan. Dan yang menarik adalah, alasan itu tetap efektif meskipun cuma dibuat-buat alias tidak jelas (fake).

Dengan kata lain, hasil eksperimen tersebut bisa memberikan suatu kenyataan bahwa:

1. Orang menyukai alasan yang disampaikan meskipun ada batasan tertentu, dan

2. Orang cenderung akan bertindak dan bersikap tanpa berpikir, terkecuali bila dampaknya cukup besar.

Gampangnya begini, hasil eksperimen diatas tentunya akan memberikan data yang berbeda bila si periset bilang bahwa dia punya 20 lembar bukan lagi 5 lembar untuk difotokopi.

Ya iyalah, orang pasti akan mulai “ngeh” dan mulai berpikir serta memperhatikan permintaan Anda bila apa yang Anda minta itu menjadi suatu permintaan yang berdampak cukup besar baginya. “Yang benar aja, 20 lembar fotocopi itu kan butuh waktu yang lama. Mending gw aja yang duluan“. Bukan begitu ya?

Nah, hasil penelitian tersebut juga menjadi menarik kalau kita refleksikan kepada diri kita sendiri.

Apakah selama ini kita melakukan sesuatu karena alasan yang jelas atau kita malah dilalaikan oleh sesuatu alasan yang tidak jelas?

Kita melakukan ibadah karena apa? Kita ingin sukses karena apa? Kita mau diet karena apa? Kita mau olahraga teratur karena apa? Kita tidak marah atau kesal pada sikap orang lain karena apa?

Kita menunda-nunda pekerjaan karena apa? Kita masih saja malas karena apa? Dan, sebab-sebab lainnya yang selama ini mungkin belum terpikirkan oleh kita karena rutinitas yang kita lakukan setiap harinya terkadang menenggelamkan dampak dan efek sesungguhnya buat kita.

Yah, hal ini semakin menyadarkan saya pribadi khususnya dan semoga berarti juga untuk Anda semua.

Mari kita temukan alasan atau tujuan yang baik dalam melakukan sesuatu karena dia akan mengarahkan diri kita. “…Innamal A’malu Binniyat…”. 

Semoga semakin menambah wawasan kita bersama ya.

Photo credit: Sarahwynne at Flicr

 

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s