Percaya Diri (Yang Tak Lagi Dipercaya)

Percaya Diri

Percaya diri dikatakan sebagai modal kesuksesan.

Lalu apakah arti dari “percaya diri” itu sebenarnya?

Andaikan Anda mencari arti kata “percaya diri”, maka Anda tidak akan menemukan artinya secara langsung di dalam kamus bahasa Indonesia karena kata percaya diri itukan terdiri dari 2 suku kata yakni “Percaya” dan “Diri”.

Berarti, Anda harus mencari arti kata “Percaya” dulu, mencari arti kata “Diri”, baru kemudian menggabungkan dua arti tersebut menjadi satu yang tentunya bisa menimbulkan banyak pengertian.

Dengan demikian mencari arti kata percaya diri dalam bahasa Indonesia itu menjadi agak sulit.

Bila kemudian, Anda iseng memasukkan padanan kata “percaya diri’ dalam bahasa Inggris-nya yakni “self confidence” maka mesin pencari google bisa langsung memberikan arti – dalam bahasa Inggris juga – sebagai “a feeling of trust in one’s abilities, qualities, and judgment”.

Biar mudah, kita artikan saja secara bebas bahwa percaya diri itu adalah suatu “perasaan percaya pada kemampuan, kualitas dan  pertimbangan pribadi atawa diri sendiri”.

Yang kemudian menarik adalah apa yang disampaikan oleh Pak Ustadz*). Bahwa kalau Anda bilang diri sendiri atau mudahnya kata “kita”-lah, maka yang manakah “kita” itu? Coba Lihat diri Anda. Ini tangan, ini kepala, ini badan. Yang manakah “kita”?

Andaikan Anda lihat ke dalampun, semua organ tubuh Anda adalah kumpulan atom yang mana kalau di teliti lagi, atom-atom itu sendiri 99% adalah kosong, begitu lebih lanjut kata Pak Ustadz.

Sejak itu, saya jadi berpikir, kalau atom sebagai penyusun diri paling kecil yang tak nampak dengan pandangan mata biasa saja 99% kosong, lalu dimanakah sesungguhnya rasa “percaya diri” itu?

Kalau diingat-ingat, kata “percaya diri” baru mulai saya dengar setelah bersekolah dan berinteraksi dengan banyak orang. Biasanya kalau mau menghadapi ulangan/ujian, perlombaan/pertandingan.

Suara-suara orang lainlah yang biasanya akan melantunkan kata-kata ucapan “percaya diri” itu. “Ayo kamu bisa!”. “Jangan tidak pede!”. “Ayo kamu mampu!”.

Baru kemudian setelah mengalami beberapa kejadian dan perolehan hasil, mulailah timbul suara diri sendiri.”Ah, kayaknya saya nga pede ni, lawan tanding lebih hebat”. “Wah yang hadir adalah para petinggi kayaknya saya tidak bisa ni”. “Waduh bagaimana nanti kalau orang-orang tidak mau mendengarkan?”

Maka rasa “percaya diri” itu sendiri mulai terusik dan terasa dibutuhkan lebih karena dipicu oleh adanya suara-suara dari luar maupun dari dalam diri. Lebih reaktif daripada proaktif.

Balik lagi kepada arti “percaya diri” diatas, yakni sebagai “rasa percaya pada kemampuan, analisa dan pertimbangan diri sendiri.”

Bicara soal percaya pada kemampuan. Saya jadi ingat bukankah setiap ciptaan sudah punya script-nya masing-masing. Dengan demikian, kemampuan setiap orang sudah pasti berbeda-beda. Masihkah mau dipaksakan untuk sama antara satu orang dengan orang lainnya?

Lalu bila bicara perihal analisa dan pertimbangan, ini berarti terkait erat dengan kemampuan berpikir. Patutlah kita renungkan, apa iya memang kita berfikir?

Sementara seorang berilmu sekaliber Ibnu Athaillah dalam Al Hikam saja menyampaikan demikian:

“Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berfikir maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa tadbir (pengaturan) Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperoleh oleh otak itu jika tidak dari Tuhan? Allah s.w.t yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu..”

Jadi masihkan rasa “percaya diri” itu dipercaya dan diandalkan untuk mencapai kesuksesan?

Sebagai penutup mungkin nasehat sang sufi berikut bisa bersama diresapi:

“Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasrahkanlah segala sesuatu kepada Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan segala yang diharamkan-Nya.

Jangan biarkan kedirianmu masuk lagi ke dalam hatimu, setelah keterbuangannya. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan. Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan berintim dengannya.

Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah. Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya.

Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun.

Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang musyrik. Allah berfirman: “Barang siapa mengharap penjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya.” (QS 18.Al Kahfi: 110)”

[Syech Abdul Qadir Jaelani, Futuh Ghaib Risalah Ke-7 Paragrap 1]

Dan rasa percaya diri itu pun hilang tak lagi dipercaya.

Semoga Allah selalu meridhoi.

Photo credit: Art Dino at Flicr

*)Arif Billah Hj. Hussein BA Latiff

2 thoughts on “Percaya Diri (Yang Tak Lagi Dipercaya)

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s