Pengambilan Keputusan dan Kedekatan PadaNya

choice

Ada penyataan menarik dari Roy F Baumeister, profesor Psikologi dari Universitas di Amerika, yang bilang bahwa yang namanya semangat atau energi kita itu terbatas.

Dia bisa turun kalau Anda banyak melakukan kegiatan-kegiatan berpikir atau mengambil keputusan.

Lebih lanjut kata pak Roy, semua aktivitas yang dilakukan dalam menentukan keputusan itu akan mengkonsumsi energi dalam tubuh Anda.

Padahal energi tersebut seperti baterai handphone, cuma tersedia terbatas yang bisa habis dalam aktivitas sehari.

Bisa jadi baterainya malah habis lebih cepat karena Anda memakainya lebih banyak untuk nonton Youtube atau banyak main game.

Kalau seperti itu, baterai yang seharusnya bisa kuat sehari malah habis dalam beberapa jam saja.

Nah, begitu juga energi Anda itu.

Dia bisa habis manakala Anda banyak melakukan aktivitas-aktivitas berpikir dalam menentukan dan mengambil keputusan.

Istilah kerennya sebut saja Anda akan mengalami “Decision Fatique”.

Bila Anda mengalami “decision fatique” maka Anda bisa kehilangan kendali atas diri Anda. Atau kehilangan self control.

Yang sesungguhnya self control itu amat sangat dibutuhkan dalam aktivitas Anda lain tentunya.

Penelitian Perihal “Decision Fatique”

Kajian dari pak Roy menjadi semakin menarik karena apa yang disampaikannya tersebut bukan lagi suatu hipotesa.

Pak Roy sudah melakukan beberapa eksperimen untuk membuktikan hipotesanya tersebut. Dan sudah dijadikan hasil riset ilmiah berjudul, “Decision Fatigue Exhausts Self-Regulatory Resources

Ada lima eksperimen yang dilakukan oleh pak Roy untuk membuktikan hipotesanya tersebut. Semua terencana dan terukur baik.

Yang menarik untuk disimak adalah penelitiannya yang dilakukan di suatu supermarket.

Pak Roy dan teamnya mengumpulkan para partisipan sebanyak 19 orang wanita dan 39 pria yang umurnya berkisar antara 18-59 tahun.

Mereka adalah para pengunjung supermarket yang bersedia untuk menjalani eksperimen Pak Roy.

Para partisipan tersebut diberikan beberapa tugas dan pertanyaan.

Seperti, berapa lama mereka berbelanja, berapa banyak pilihan yang mereka lakukan, kenapa penting sebelum memutuskan untuk memilih barang tersebut dan lain sebagainya.

Setelah itu, para partisipan diminta mengerjakan soal-soal aritmetika sederhana.

Waktu berapa lama mereka mulai mengerjakan, berapa lama membalik halaman serta berapa lama menyelesaikan semua soal-soal tersebut pun dicatat dan dianalisa.

Dari eksperimen diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak keputusan yang diambil oleh dalam menentukan belanjaan mereka, semakin lama waktu mereka untuk mengerjakan soal.

Hal ini juga sejalan dengan nilai yang diperoleh.

Semakin banyak keputusan yang dilakukan sebelumnya juga menyebabkan mereka mendapatkan nilai jelek dari jawaban soal-soal mereka.

Nah kan,

Hasil eksperimen tersebut ternyata konsisten dengan hipotesa awalnya pak Roy bahwa membuat banyak keputusan akan menghabiskan energi yang menganggu kinerja Anda.

Makanya,

Anda diminta jangan banyak-banyak memikirkan dan memutuskan karena itu akan menghabiskan energi dan menurunkan kinerja Anda.

Begitu barang kali yang bisa disimpulkan dari hasil eksperimen pak Roy.

Sudah banyak kok orang terkenal yang tidak mau pusing lagi dengan kegiatan pengambilan keputusan yang sebenarnya sepele, contohnya Barack Obama.

Yang menarik adalah pernyataan dari Barack Obama saat ditanya kenapa dia selalu memakai pakaian kalau nga warna hitam ya warna biru?

Beliau jawab, itu semua karena dia tidak ingin membuat keputusan tentang apa yang saya makan atau saya pakai.

Masih banyak masalah dan keputusan lain harus dibuat. Memilih pakaian tidak usah pusing-pusing.

Wah-wah, mungkin pak Obama sudah baca hasil penelitian pak Roy kali ya atau seseorang memberitahukan perihal teori “decision fatique” itu padanya.

Mungkin itu juga kali ya, kenapa banyak pengambil keputusan biasanya cepat lelah dan tak mampu mengendalikan diri lagi. hehehe.

Mereka harus cepat-cepat di-charge biar energinya bisa balik kembali.

Tapi, bagaimana melakukan recharging itu sebaiknya?

Melakukan “Recharging”

Membaca perihal “decision fatique” meskipun mungkin saja ada pro kontra terhadap hasil eksperimennya, saya jadi ingat lagi nasehat pak Ustad*).

Bahwa selayaknya, kita selalu bersikap objektif dalam memandang setiap kejadian yang terjadi terhadap kita.

Tidak usah sibuk-sibuk memikirkan karena semua dalam pengurusanNya. Cukup  saja Memandang dalam diam.

Dari membaca perihal “decision fatique”, saya pun jadi ingat beberapa kalimat pembukaan buku karya Ibnu Athaillah berikut yang berjudul “Mengapa Harus Berserah“, ini:

“Seberapa banyak pun energi yang kita curahkan untuk memenuhi suatu keinginan, tetap saja itu tak akan tergapai jika tak sesuai dengan keputusan Tuhan.

Kita tak dapat memenangkan kehendak kita di atas kehendak-Nya.

Kita bahkan kerap menemukan bahwa takdir dan ketentuan yang berlaku pada diri manusia bukanlah yang sesuai dengan pengaturan olehnya.

Pengaturan manusia ibarat rumah pasir di tepi laut, yang bisa demikian mudah runtuh tatkala ombak, takdir Tuhan berlabuh. 

Dalam hidup, kita juga acap menemukan bahwa apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan dan sebaliknya, apa yang kita sangka buruk ternyata malah mendatangkan kebaikan.

Boleh jadi ada keuntungan di balik kesulitan, dan ada kesulitan di balik keuntungan.

Boleh jadi pula kerugian muncul dari kemudahan, dan kemudahan muncul dari kerugian. Mana yang berguna dan mana yang berbahaya pada akhirnya adalah sesuatu di luar pengetahuan kita.”

Membaca perihal “decision fatique“, saya jadi teringat lagi pesan Syech Abdul Qadir Jaelani berikut ini dalam futuh ghaib risalah 30, paragraf 1:

“Betapa sering kau berkata, apa yang mesti kulakukan, apa yang mesti kugunakan (untuk mencapai tujuanku)?

Tetaplah di tempatmu. Jangan melampaui batasmu, sampai jalan keluar dikaruniakan bagimu dari-Nya yang telah memerintahkanmu untuk tinggal di tempatmu.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, senantiasa berteguhlah dan jagalah kewajibanmu terhadap Allah…” (QS 3:200)”. 

Jadi, jangan terlalu banyak memikir-mikir dan memutuskan kali ya, karena pesan Syech Abdul Qadir Jaelani lainnya berikut ini amatlah mendalam:

“Sesungguhnya, kenyamanan hakiki terletak pada hubungan sempurna dengan Allah SWT, penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Bila kau lakukan hal ini, niscaya kau terbebas dari dunia ini, dan kepadamu dilimpahkan rahmat, kebahagiaan, kebajikan, kesejahteraan, dan keridhaan-Nya”

Yah, tempat melakukan recharge energi terbaik memang dengan balik kembali pada Allah. Dan akan lebih baik lagi, bila kita bisa selalu menjaga dan melakukan hubungan sempurna itu.

Semoga ada rahmatNya untuk mencapai kedudukan seperti itu ya. Aamiin…

Photo credit: Daniel Lee at Flicr

*) Arif Billah Hj. Hussein BA Latiff

8 thoughts on “Pengambilan Keputusan dan Kedekatan PadaNya

  1. Pak terimakasih tulisan2 nya memberikan saya banyak sekali inspirasi dan ilmu. Keep writing pak😊.

  2. Keren sekali tulisannya Pak. Diawali dengan eksperimen untuk membuktikan hipotesa yang ada. Lalu ditutup dengan contoh dan ulasan para ulama.

    Terus menulis Pak 🙂

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s