Benarkah Orang Indonesia “Kepo” Atau Memang Mudah Dibujuk?

kepo

Pernahkan Anda memperhatikan fenomena dimana orang banyak berkumpul lalu tiba-tiba ada orang lainnya juga ikut-ikutan bergabung?

Bahkan Anda sendiri tanpa sadar juga ikut gabung dengan orang banyak tersebut dengan rasa ingin tahu yang tinggi, ada apa sebenarnya?

Pernah ada suatu penelitian yang dilakukan oleh tim opini perihal keramaian orang di pinggir jalan.

Mereka mencoba memancing orang banyak dengan menggunakan 4 talen yang berhenti dipinggir jalan jembatan dan menengok ke arah jalan dibawah mereka.

Tanpa jelas ada apa sebenarnya, satu orang kepancing ikutan melihat, dua-tiga orang ikutan mendekat dan bergabung.

Bahkan beberapa pengendara motor juga berhenti untuk ikutan “kepo” mau melihat ada apakah gerangan yang terjadi?

Menarik memang.

Kayaknya tidak saja di Indonesia fenomena seperti itu bisa terjadi. Di tempat lain pun bisa saja terjadi.

Apakah ini memang bawaan orang yang memang selalu ingin tahu?

Prinsip Social Proof

social proof

image via : Johnlevenson

Dr. Robert Cialdini pernah membahas fenomena ini dan mengenalkannya sebagai prinsip social proof atau social influence.

Yakni, bahwa tindakan seseorang biasanya akan dipicu oleh tindakan orang lain saat menghadapi situasi tertentu.

Biasa terjadi dalam situasi yang didorong oleh asumsi bahwa orang lain di sekitar Anda itu tentu lebih memahami situasi yang terjadi daripada diri Anda sendiri.

Coba saja,

Anda tentu akan memilih warung makan yang ramai saat berkunjung pertama kali di mal yang baru dibuka.

Padahal Anda belum tahu apakah menu yang disajikan disitu memang sesuai dengan selera Anda.

Anda akan memilih belanja oleh-oleh di suatu tempat untuk sanak saudara di rumah di suatu toko hanya semata-mata karena orang banyak membeli oleh-oleh di toko tersebut.

Atau,

Itu tadi, Anda bisa saja tiba-tiba berhenti di pinggir jalan menghampiri kerumunan orang banyak cuma untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.

Percobaan Pak Chialdini

towel

image via : Johnlevenson

Pak Cialdini dan timnya pernah melakukan suatu eksperimen terhadap para tamu yang menginap di suatu Hotel.

Adalah menjadi kebiasaan para tamu hotel untuk meletakan handuk di tempat basah agar room service mau mencucinya, meskipun handuk tersebut baru dipakai sekali saja.

Berdasarkan hal tersebut,

Pak Cialdini dan tim melakukan eksperimen bagaimana caranya agar para tamu hotel mau menggunakan kembali handuk yang baru sekali pakai itu.

Anda tentu pernah melihat tanda yang ditempel di kamar mandi hotel?

Yang biasanya, ada tulisan tertentu untuk mengingatkan para tamu perihal penghematan air, sabun, shampoo, handuk dan lain sebagainya?

Nah, pak Cialdini dan tim kemudian melakukan eksperimen untuk memodifikasi tanda tersebut dengan beberapa pilihan kalimat berikut:

1.”Gunakan handuk Anda kembali, itu berarti Anda telah ikut peduli pada pelestarian lingkungan.”

2. “Gunakan handuk Anda kembali agar Hotel bisa menghemat biaya laundri untuk disumbangkan bagi pelestarian lingkungan.”

3. “Hotel Anda ini telah memberikan sumbangan untuk pelestarian Lingkungan. “Maukah Anda bergabung dengan kami”

4. “Sebagian besar tamu Hotel menggunakan kembali handuk mereka setidaknya sekali selama mereka menginap.”

Dan hasilnya,

Persetase tamu hotel yang berkenan untuk menggunakan kembali handuknya adalah sebagai berikut:

– Tanda 1: 38%

– Tanda 2: 36%

– Tanda 3: 46%

– Tanda 4: 48%

Terlihat bahwa orang cenderung melakukan sesuatu karena orang lain melakukannya bukan?

Coba perhatikan bahwa dengan kalimat nomor 3 dan nomor 4, persetasi kesediaan tamu hotel untuk menggunakan handuknya kemblai lebih tinggi daripada nomor 1 dan nomor 2.

Itulah fenomena yang akhirnya berkembang menjadi prinsip social proof – prinsip untuk mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu.

Ada 6 prinsip yang diperkenalkan pak Cialdini sebenarnya. Keenam prinsip itu adalah:

  1. Pengaruh Sosial
  2. Timbal balik,
  3. Komitmen dan konsistensi
  4. Otoritas
  5. Disukai
  6. Kelangkaan

Anda bisa membaca pembahasan perihal ke-6 prinsip itu dalam tulisan lalu disini.

Kembali pada prinsip Pengaruh Sosial.

Memang tidak selamanya orang akan mengikuti orang kebanyakan lainnya. Ada kok yang tetap ingin tampil beda.

Satu catatan pernah disampaikan oleh psikolog sosial dari universitas Pennsylvania, Jonah Berger.

Menurutnya, ada saja orang atau grup orang yang tetap ingin tampil beda.

Bagi para anak muda tentu tidak akan mendatangi restoran yang penuh oleh orang tua. Mereka akan mencari restoran lain yang lebih ramai oleh anak muda.

Kebalikannya, para orang tua tentu tidak akan ikut-ikutan untuk makan di restoran yang ramai dipenuhi oleh anak muda.

Kecuali kalau memang orangnya cuek, merasa masih muda atau tidak punya pilihan lain.

Yah, tentunya prinsip social proof dalam konteks tertentu berguna dalam membujuk/mempengaruhi orang.

Utamanya dalam dunia pemasaran dimana prinsip-prinsip ini sudah lama diterapkan.

Jadi orang itu memang pada dasarnya “kepo” kah?

Heehee. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Photo credit by: Wayne as Grazio at flicr

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s