Jadi Pengamat, Diam, Lalu Terpesona

meeting

Kadang ada saja waktu untuk sekedar diam dan mengamati.

Memandang langit biru pagi hari sambil menyaksikan matahari terbit, Anda bisa saja hanya diam dan mengamati.

Memandang luas laut sambil memperhatikan matahari terbenam di ufuk sana, Anda pun bisa diam sekedar mengamati.

Memandang taburan bintang-bintang di angkasa di malam hari, Anda pun bisa diam tak berkata apa-apa.

Asyik, syahdu sendiri dalam hati sambil mungkin sesekali berucap takjub.

Dan tidak itu saja, memandang kejadian dan peristiwa sehari-hari pun Anda bisa hanya diam dan mengamati saja.

Melihat Anak-anak yang sedang main, melihat orang saling berinteraksi di jalan atau sekedar mengamati kejadian berita di koran dan televisi Anda pun bisa hanya diam dan mengamati saja.

Meskipun tidak semua dari Anda bisa seperti itu mungkin.

Ada satu lagi yang mungkin para pekerja kantor alami, tetapi kadang tidak sadar bahwa diam dan mengamati itu juga bisa dilakukan yakni di dalam rapat kantor.

Pertemuan dari beberapa orang yang saling berinteraksi untuk membahas suatu masalah dan mencari solusinya juga bisa mempesona ternyata.

Yah, sudah 2 hari belakangan ini, saya mendapatkan kesempatan ikut-ikutan boss untuk bertemu dengan para pemilik perusahaan.

Orang-orang yang biasa punya akun bermiliar rupiah di bank dan naik turun mobil mewah tentunya.

Bertemu dengan mereka hanya satu saja yang membuat saya agak risau, kira-kira nanti saya mau ngapain di ruang rapat itu?

Pastinya saya akan banyak diam saja lebih banyak memposisikan diri sebagai seorang pendengar yang sekali-kali mungkin akan menjawab bila si boss bertanya perihal sesuatu hal.

Meskipun dulu sempat ada tips yang menyatakan agar kita jangan ragu bertemu dengan orangg-orang penting, tetapi tetep perasaan bertanya-tanya mau ngapain nanti tetap ada.

Ya memang begitulah yang terjadi.

Di dalam pertemuan itu, saya lebih banyak terdiam saja dan mendengarkan saja para mereka itu berdiskusi.

Satu hal yang bernar terlihat terlihat bahwa mereka semua ya sama. Punya cerita, pengalaman, kerisauan, suka duka kehidupan yang sama dengan kita.

Bedanya yah itu tadi kalau mereka itu bicara sudah tidak lagi pakai angka 0 yang cuma enam, tetapi sudah bicara angka-angka yang angka 0 nya mencapai 9 digit bahkan lebih.

Baru kali ini melihat langsung apa yang terjadi dan bagaimana mereka saling bicara.

Betapa semua bisa tertawa padahal yang ditertawakan itu adalah jumlah uang yang sangat besat.

Betapa mereka bisa mudah bicara angka padahal itu angka-angka yang besar.

Dan betapa mereka bisa mudah menyambung cerita perihal investasi padahal itu adalah investasi yang bernilai miliaran rupiah.

Dibalik itu, mereka adalah pemilik perusahaan-perusahaan yang masing-masing punya jumlah karyawan yang banyak.

Ada tanggung jawab sosial yang besar berada di pundak mereka walau itu sepertinya mungkin tidak dirasakan.

Dan, saya malah berpikir bagaimana bila tanggung jawab itu ada pada saya, bagaimana mengatur keuangan agar perusahaan besar dengan jumlah karyawan yang banyak bisa tetap bertahan.

Namun kemudian seperti tersadarkan begitu saya ingat lagi pesan dari Pak Ustadz bahwa semua yang terjadi itu sudah berada dalam alur plot cerita yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Masing-masing sudah punya peranan sendiri-sendiri dengan semua kelengkapan yang melekat.

Jadi tidak usah pikir-pikir, santai saja jalanani peranan masing-masing.

Acap kali bibir ini hanya diam mendengarkan, tetapi kali ini mengamati, diam dan akhirnya terpesona.

Dia Yang Maha Mengurusi hamba-hambanya. Tidak ada campur tangan sedikitpun dari yang lain terhadap itu semua.

Dia Yang Maha Mengatur hamba-hambanya dan memastikan segala sesuatu berada dalam kadar dan manfaat yang telah ditetapkanNya.

Menyaksikan bagaimana para bos itu berinteraksi hanya menimbulkan suatu kebersyukuran terhadap apa yang terjadi.

Karena atas ketetapanNya saya bisa ikut hadir dalam pertemuan tersebut untuk jadi pengamat, diam dan terpersona pada keagungan dan pengaturanNya.

 

Photo credit: Maryland GovPics at Flicr

2 thoughts on “Jadi Pengamat, Diam, Lalu Terpesona

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s