Pandanglah Statusnya, Lalu Sadari, Senyum pun Akan Manis Sekali

iri hati

image via flicr

Di dalam hidup ini kadang beberapa orang agak risih dengan “status”.

Beberapa orang ada yang sangat mementingkan “status”, tetapi ada juga yang tak ambil pusing dengan “status”.

Padahal hendaknya kita mengerti terlebih dahulu pengertian kata “status” itu apa yah?

Dalam kamus besar bahasa indonesia, kata “status” diartikan sebagai suatu keadaan atau kedudukan (orang, badan, dan sebagainya) dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya.

Pantas saja kalau begitu, dengan “status” beberapa orang bisa alergi karenanya.

Namun, nanti dulu.

Pembahasan dari Keith Johnstone , seorang pioner dalam teater improvisasi berikut seakan membuka suatu wawasan baru perihal “status”.

Beliau pernah menghadapi suatu masalah dimana dialog dalam teater menjadi tidak natural lagi.

Sampai suatu saat beliau menyarankan kepada para aktor untuk lebih bisa menempatkan diri diatas atau dibawah rekan lainnya saat berdialog.

Rupanya saran ini dimengerti oleh para aktor dan adegan dialog pun menjadi lebih menarik (ini bahasa saya sendiri dalam menerjemahkan, versi asli ada dalam bukunya yang berjudul “Impro“).

Dari situ, pak Keith mulai mengerti bahwa tidak ada perubahan bentuk dan gerakan tanpa menyiratkan “status” dan tidak ada tindakan yang kebetulan tanpa adanya motif.

Biasanya kita terlarang untuk bicara “status” pada kenyataannya “status” berjalan sepanjang waktu.

Disimak ada benarnya juga pendapat pak Keith.

“Status” Di Kehidupan Sehari-hari

Andai kita melihat lebih dalam maka pendapat pak Keith memang begitu adanya.

Di dalam keseharian hidup Anda saja misalkan yang merupakan “drama Ilahi”, tak akan ada pernah situasi dimana Anda tidak memandang “status”.

Ambil contoh saat Anda berhadapan dengan orang yang Anda anggap lebih tinggi kedudukannya dari Anda.

Suatu waktu mungkin Anda berasa malu untuk berbicara dengan orang tersebut karena memandang statusnya.

Nah, saat itu sebenarnya ada telah mengambil “status” (keadaan atau kedudukan) Anda lebih rendah dari orang tersebut.

Lain waktu Anda bisa berkata bahwa Anda tidak perlu malu dengan orang tersebut, toh semua orang sama.

Itu pun berarti Anda sedang mengambil “status” (keadaan atau kedudukan) Anda sederajat dengan orang itu.

Demikian pula bila Anda berkata bahwa saya lebih tahu dari dia.

Itu sudah berarti bahwa Anda mengambil “status” (keadaan atau kedudukan) bahwa Anda justru lebih tinggi dari orang itu.

Dengan kata lain, Anda selalu memandang “status” Anda dan “status” orang lain. Dan, itu selalu dilakukan sadar atau tidak sadar setiap hari.

Jadi rasanya untuk arlegi terhadap “status” menjadi agak-agak absurd. Wong dalam keseharian, Anda akan selalu memandang “status”.

Hal ini menjawab pertanyaan kenapa kok terlihat susah sekali bicara dengan beberapa orang yang dalam tanda kutip “status”-nya lebih tinggi dari Anda.

Yah karena Anda telah menetapkan status Anda lebih rendah.

Pertanyaannya apakah ini salah? Tidak juga ternyata.

Menempatkan status Anda lebih rendah (bukan karena rendah diri lho ya), memang tepat untuk dilakukan.

Karena dari situ akan tercipta keseimbangan, ada yang tinggi dan ada yang rendah sehingga bisa saling melengkapi.

Bila Anda mampu melihat ini, maka semua akan baik-baik saja, mengalir apa adanya tanpa ada kekakuan dalam berinteraksi.

Inilah yang dikatakan oleh Ian Rowland, seorang ahli pembaca pikiran, sebagai situasi dimana Anda bisa menempatkan “status” seseorang dengan tepat dalam membina interaksi yang baik.

Perhatikan “status” orang tersebut, maka Anda bisa tahu seperti apa mereka mau diperlakukan dan apa yang bisa kita berikan untuknya.

Sama halnya bila Anda paham benar bahwa orang lain sedang menempatkan “status”-nya lebih rendah dari Anda.

Bila Anda bisa baca ini maka interaksi dan komunikasi Anda jadi baik. Tak akan mungkin kan Anda gunakan istilah-istilah tingkat dewa yang tidak akan dimengerti oleh orang tersebut.

Sirnanya “Status”

Yang menjadi agak susah mungkin adalah diri Anda sendiri yang terkadang tidak bisa melihat status orang lain berada dimana serta tidak bisa menyesuaikan.

Merasa “status” amat tinggi dari orang lain atau merasa amat rendah “status”-nya dimata orang lain.

Padahal ada pesan indah dari Ibnu Qayyim al-Jawziyah seperti pernah dibahas dalam tulisan lalu disini, bahwa hendaknya:

“Saat berinteraksi dengan siapa saja dan di mana saja, kita perlu memperhatikan dan memastikan agar cara interaksi kita sudah seimbang dengan kemampuan dan tenaga orang lain. Di samping tetap berada dalam rida dan taat kepada Allah, kita tidak perlu menuntut hal-hal yang tidak mungkin atau melebihi kemampuan. Jika kita terusik atau tersingung akibat ulah orang lain, jangan memberi reaksi yang sama, atau sikap memusuhi. Maafkan saja mereka. Biarkan takdir meneruskan tugasnya.”

Perhatikan kalimat terakhir, biarkan “takdir meneruskan tugasnya”.

Saya jadi ingat lagi pesan pak Ustadz kalau semua sudah punya peranan masing-masing, punya “status” dan script masing-masing dari Tuhan.

Rupanya inilah kedudukan para orang arif dalam memandang “status”.

Mereka tidak lagi memandang diri mereka eksis sebab sadar bahwa semua berada dalam pengurusan-Nya.

Mereka telah menempatkan “status” mereka dalam “ketidakwujudan”.

Dalam pandangan mereka yang tampak hanya Dzat-Nya saja yang sedang berinteraksi.

Dan karena memandang “status” tersebut lalu menyadarinya, mereka pun tersenyum manis.

Indah benar ya.

Semoga ada rahmat-Nya untuk kita semua. Aamiin..

Selamat hari Jum’at sahabat.

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s