Anda Cuma Butuh 9 Menit Untuk Jadi Lebih Pandai

image via pixabay

image via pixabay

Pernahkan Anda mengalami keadaan kalau Anda tiba-tiba menjadi takut pergi ke kamar mandi sendirian sesudah Anda menonton film bertema hantu?

Atau sebaliknya,

Anda menjadi begitu bersemangat untuk pergi ke suatu tempat wisata setelah menyaksikan keindahan tempat tersebut dalam suatu acara di televisi?

Nah, kenapa bisa begitu ya?

Itulah yang katanya di dalam bahasa psikologi dikenal sebagai “priming”, yakni ingatan yang terpicu karena suatu hal tertentu (stimulus).

Apa yang Anda tonton itu masuk ke dalam ingatan Anda tanpa Anda sadari, kemudian terpicu oleh suatu hal tertentu yang akhirnya mempengaruhi pikiran Anda kembali sehingga Anda pun jadi takut ke kamar mandi sendirian.

Lingkungan dan Pengaruhnya

Semua yang ada di lingkungan Anda : orang, benda, suara, suhu udara, kejadian tertentu dan lain sebagainya yang Anda lihat, rasa atau alami bisa terpatri di dalam ingatan tanpa Anda menyadarinya.

Begitu ingatan itu terpicu, pada gilirannya dia akan mempengaruhi pikiran dan tindakan Anda.

Oleh karena itu, mendengar orang bicara perihal “kisah misteri”, menonton film horor atau membaca di koran barangkali, bisa membuat Anda jadi penakut padahal sebelumnya tidak seperti itu.

Sebaliknya, mendengar, melihat dan mengamati seorang yang tiada pernah ada rasa takutnya juga bisa membuat Anda menjadi pemberani di kegelapan malam.

Inilah dua sisi dari “priming” yang dampaknya bisa buruk dan baik buat Anda.

Tinggal bagaimana cara Anda untuk mengelola atau mengkondisikan lingkungan Anda agar tetap positif. Itulah yang terbaik.

Jadi Orang Lebih Pandai dengan “Priming” Positif

“Priming” yang positif bisa disiasati untuk melakukan hal-hal baik tertentu saat mana dibutuhkan.

Salah satunya seperti apa yang dihasilkan dari suatu percobaan psikologi berikut ini.

Suatu percobaan yang dilakukan oleh peneliti dari Belanda, Ap Dijksterhuis and Ad van Knippenberg, telah membuktikan bahwa melakukan “priming” yang positif bisa berdampak baik pada pola pikir dan tingkah laku Anda.

Percobaan mereka menyimpulkan kalau dengan melakukan “priming” jati diri seorang profesor bisa membuat orang lebih pandai dalam ukuran skala pengetahuan umum.

Jadi ceritanya begini,

Percobaan mereka seperti percobaan lain melibatkan beberapa orang partisipan.

Para partisipan tersebut diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan, lalu jawaban atas pertanyaan tersebut dinilai dan diukur.

Uniknya beberapa partisipan diminta terlebih dahulu untuk memikirkan tipikal jati diri seorang profesor.

Mereka diminta untuk membuat list perihal tingkah laku, gaya hidup dan atribut jati diri dari seorang profesor (memicu ingatan positif perihal profesor yang ada di ingatan).

Tahu dong profesor, orang yang dalam ingatan Anda juga tentu orang yang pandai bukan?

Dan, sebagai pembanding,

Beberapa partisipan lain diminta untuk memikirkan jati diri seorang sekretaris yang juga pandai, tetapi masih lebih pandai seorang profesor lah yah.

Kenapa yang dipilih jati diri profesor dan sekretaris bukan yang lain? Ini tentunya sudah berdasarkan hasil survei juga, jadi tidak perlu dibahas ya.

Nah, sisa partisipan lain tidak diminta untuk melakukan “priming” apapun, cukup langsung mengerjakan soal saja.

Dan hasil adalah….

Para partisipan yang memikirkan jati diri seorang profesor mendapatkan nilai lebih tinggi dari kelompok yang memikirkan jati diri seorang sekretaris atau dari kelompok yang tidak melakukan “priming” sama sekali.

Terbukti kalau melakukan “priming” memikirkan jati diri seorang profesor bisa mendapatkan nilai yang tinggi.

Dan, tidak itu saja.

Percobaan selanjutnya membuktikan bahwa makin lama waktu untuk melakukan “priming” tipikal jati diri seorang profesor (dibedakan menjadi 2 dan 9 menit), maka nilai yang didapat juga semakin baik untuk para partisipan yang melakukannya dalam 9 menit.

Kenapa bisa begitu ya?

Kalau membaca hasil risetnya dikatakan bahwa dengan melakukan “priming” jati diri seorang profesor itu:

  1. Bisa menginduksi para partisipan untuk lebih konsentrasi dan berpikir lebih mendalam untuk menjawab setiap pertanyaan,
  2. Membuat mereka menggunakan strategi yang lebih baik dalam memilih jawaban (karena efek berpikir lebih dalam),
  3. Membuat mereka lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka.

Jadi percaya diri dan tetap jaga pikiran positif sangat perlu ternyata.

Jangan menggangap diri lemah atau “stupid“.

“Priming” seperti itu malah akan membuat Anda beneran jadi “stupid“.

Sebab percobaan selanjutnya menyatakan demikian.

Para partisipan lain yang diminta melakukan “priming” sebagai seorang yang “stupid” memang hanya memperoleh nilai-nilai yang rendah daripada partisipan lain yang melakukan “priming” jadi diri seorang profesor diatas.

Lengkapnya bisa dibaca disini yah, hasil penelitian tersebut.

Bagaimana sahabat sekalian? Sependapat dengan hal ini?

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s