Anak Amerika dan Asia, Hebat Mana Dalam Menentukan dan Memutuskan?

decision

image via pixabay

Kenapa ya? Kalau saya tuh selalu memilih menu makan di restoran yang itu-itu saja.

Padahal sudah datang ke restoran yang lumayan banyak variasi menunya, tetapi saking banyaknya pilihan, saya jadi malah tambah bingung.

Kuatir kalau nanti apa yang dipesan itu tidak sesuai dengan selera lalu membayar sesuatu yang tidak bisa dimakan jadi tambah kecewa.

“Aha!” ada nasi goreng tuh!.

Bukan menu spesial memang, tetapi ya sudah pesan itu saja daripada ambil resiko.

Kadang-kadang si, suka juga bertanya ke waiters-nya saja. Menu apa yang istimewa di restoran tersebut saat sudah frustasi memilih.

Dan itulah yang dipesan. Meskipun tetap ada resiko belum tentu enak dan harus membayar mahal karena kan yang dipesan menu istimewa.

Di lain hari juga begitu.

Niat awal mau membeli “obeng” saat berkunjung ke suatu mal yang spesial menjajakan barang-barang kebutuhan dan peralatan rumah tangga.

Lama berpikir, lama memutuskan, lama menimbang-nimbang, pada akhirnya saya malah tidak jadi membeli atau kalaupun membeli tetap kadang kecewa.

Rupa-rupanya memang benar seperti apa yang dijelaskan oleh Barry Schwatz, kenapa suatu saat Anda akan kesulitan untuk memilih saat dihadapkan pada keragaman pilihan.

Barry Swatch dalam bukunya yang berjudul “the paradox of choice“- pernah dibahas dalam tulisan lalu disini – menyatakan bahwa keberagam dan banyaknya pilihan justru akan membuat Anda tak berdaya karena:

  1. Anda butuh waktu lebih lama untuk menentukan keputusan karena harus membandingkan-bandingkan.
  2. Anda lebih perhitungan dan sensitif terhadap manfaat dan biaya.
  3. Anda jadi mudah menyalahkan diri sendiri. Bila ternyata pilihan Anda tidak sesuai dengan harapan Anda sendiri sebab keputusan itu adalah keputusan Anda.

Padahal sekarang ini banyak sekali keragaman pilihan disajikan oleh para produsen.

Dari mulai pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, peralatan elektronik banyak pilihan padahal mirip-mirip.

Mau beli selai untuk sarapan roti saja, Anda bisa dihadapkan pada beragam pilihan. Ada merek A, merek B, dan merek C.

Ujung-ujungnya Anda hanya akan kembali kepada merek yang sudah familiar saja dengan Anda atau Anda mencoba satu merek baru dengan resiko tertentu.

Kalau enak, beli lagi yang itu besok-besok.

Kalau tidak enak, jangan beli lagi.

Ya itukan kenapa makanya para produsen harus beriklan agar produknya bisa dikenal konsumen.

Ya iya juga, tetapi coba bayangkan kok bisa sampai satu produk dijumpai lebih dari 10 macam varian dari produsen yang sama pula.

Sheena Iyengar, seorang psycho-economist, pernah mencermati bahwa beragam pilihan yang ditawarkan di pasar sekarang ini timbul karena dipicu oleh beberapa asumsi yang berkembang utamanya di Amerika.

Ada asumsi yang membudaya bahwa Anda memiliki kebebasan untuk memilih dan karena itu keberagaman pilihan akan menolong Anda dalam menentukan pilihan terbaik.

Diri Anda sendirilah yang bisa memutuskan bukan orang lain. Biar tidak salah dalam memutuskan, keberagaman alternatif pilihan akan membantu Anda.

Menarik mencermati asumsi tersebut yang ternyata akan berbeda ketika dihadapkan pada latar belakang budaya yang berbeda dengan Amerika.

Asumsi bahwa diri Anda sendirilah yang harus memutuskan ternyata tidak berlaku absolut pada latar belakang budaya non Amerika.

Eksperimen

image via pixabay

image via pixabay

Sheena Iyengar pernah melakukan eksperimen unik untuk melihat benar tidaknya latar belakang budaya bisa membuat perbedaan seseorang dalam memilih dan berprestasi.

Penelitian beliau dan koleganya dilakukan di Japantown, San Francisco.

Sheena dan koleganya suatu saat mengumpulkan anak-anak Amerika asli dan keturunan Asia yang berumur 7- 9 tahun untuk melakukan permainan menyusun kata.

Eksperimen tersebut dilakukan dengan menerapkan 3 (tiga) perlakuan berbeda terhadap anak-anak tersebut dalam melakukan permainan menyusun katanya, sebagai berikut:

  1. Anak-anak dibolehkan memilih sendiri. Setiap tumpukan susunan kata dan spidol mana saja bebas dipilih oleh mereka sendiri.
  2. Anak-anak tidak boleh memilih sendiri. Setiap tumpukan kata harus sudah ditentukan oleh Ibu Guru.
  3. Anak-anak tidak boleh memilih sendiri. Setiap tumpukan kata diinformasikan seolah-olah sudah dipilihkan oleh para Ibunda mereka.

Sekali lagi, ada 3 (tiga) perlakuan berbeda, yakni: memilih sendiri, dipilihkan oleh Ibu Guru, dan seolah-olah telah dipilihkan oleh Ibunda mereka.

Seru ya, ada saja ide dari Sheena yang memang pintar walau dengan keterbatasan.

Dan hasilnya adalah,

Anak-anak keturunan Amerika asli, mampu menyelesaikan dua setengah kali lebih banyak permainan kata ketika mereka diberikan kebebasan untuk memilih sendiri.

Ketika diberikan kebebasan memilih, kinerja mereka sangat baik.

Kinerja mereka justru akan turun ketika permainannya telah dipilihkan oleh Ibu Guru atau seolah-olah oleh Ibunda mereka.

Beberapa anak keturunan Amerika asli malah merasa malu dan bertanya untuk menyakinkan diri apakah benar Ibunda  mereka yang telah menentukan pilihan buat mereka. Hehehe…

Berbeda hasilnya dengan anak-anak amerika keturunan Asia.

Kinerja anak-anak keturunan Asia mereka paling bagus ketika mereka yakin bahwa Ibunda mereka yang memilih dan memutuskan (meskipun hanya dibuat seolah-olah).

Kinerja mereka malah turun ketika mereka diberi kebebasan untuk memilih sendiri, dan semakin turun ketika dipilihkan oleh Ibu Guru.

Hal ini berkebalikan dengan kinerja anak-anak keturunan Amerika sebelumnya.

Nah, terlihat bahwa pilihan itu bukan sekadar cara menyatakan dan menegaskan siapa diri mereka dalam diri setiap anak.

Ada semacam keinginan dan percaya diri bila bisa menjadi bagian dari komunitas untuk tunduk pada pilihan orang-orang yang mereka percayai dan hormati.

Ada rasa puas bila dapat memuaskan orang-orang dekat mereka. Begitu lebih lanjut kata Sheena Iyengar.

Lalu mana yang lebih baik menurut Anda?

Dibesarkan dalam budaya Amerika, dimana apa-apa diputuskan sendiri dan tidak boleh menolak untuk memutuskan ternyata mendatangkan depresi sebab “Paradox of Choice“-nya seperti apa yang disampaikan oleh Barry Schwatz.

Ini pun didukung oleh pernyataan Sheena yang disampaikan dalam presentasi apik yang bisa Anda simak di TED.com

“Ketika seseorang tidak bisa melihat bagaimana suatu pilihan itu tidak seperti pilihan yang lain, atau ketika ada terlalu banyak pilihan untuk membandingkan dan menemukan perbedaan, proses memilih menjadi membingungkan dan membuat frustrasi. Alih-alih membuat pilihan yang lebih baik, kita justru menjadi kewalahan oleh pilihan, kadang-kadang bahkan takut terhadap pilihan. Pilihan tidak lagi menawarkan peluang, tetapi justru malah membebankan dan menjadi kendala. Dan ini bukan lagi pertanda kebebasan, tetapi Anda malah menjadi sesak napas.” 

Dibesarkan dalam budaya rata-rata orang Asia, dimana biasanya keputusan Anda amat dipengaruhi oleh orang-orang terdekat, suatu saat juga bisa menimbulkan dilema saat mana orang banyak berkata “begitu” dan Anda berkata “begini”.

Menentukan pilihan dan mengambil keputusan pun dikatakan menjadi sulit dan itu bisa dirasakan dalam situasi-situasi tertentu dalam kehidupan keseharian kita.

Lalu bagaimana dong?

Sayangnya Sheena Iyengar pun tidak memberikan kesimpulan mana yang lebih baik walau banyak mengemukakan kelemahan asumsi barat dalam hal keputusan.

Pada tatanan yang lebih tinggi lagi, para orang Arif justru menyatakan bahwa kita ini sesungguhnya tidak punya pilihan dan cuma ikut pada kehendak Tuhan.

Syech Abu Al Hasan Al Syadzili r.a pernah berkata – seperti tertulis dalam buku Ibnu Athaillah Al Sakandari : Mengapa Harus Berserah, halaman 22, yang pesannya sangat indah berikut ini:

“..jika memang harus mengatur, aturlah untuk tidak ikut mengatur.”

“..jangan sekali-sekali ikut memilih dalam urusanmu. Pilihlah untuk tidak memilih. Larilah dari pilihanmu dan dari segala sesuatu menuju Allah SWT. Dialah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki sekaligus memilihnya.”

Diam untuk tidak ikut mengatur dan memilih, selalu berdoa memohon padaNya, pada Tuhan yang selalu menjaga dan mengatur ciptaanNya menjadi penenang.

Membaca pesan tersebut pun bisa menimbulkan beda pendapat juga. tapi, itu tadi, doa, shalat dan senantiasa ingat Tuhan menjadi yang terbaik.

Semoga senantiasa kita diberikan pentunjuk dan pengajaran dariNya.

Salam..

4 thoughts on “Anak Amerika dan Asia, Hebat Mana Dalam Menentukan dan Memutuskan?

  1. Yg terbaik adalah seperti kata al quran, “afala ta’qilun” menggunakan akal (benar atau salah), tidak boleh ada campur tangan perasaan dalam membuat keputusan (enak atau gak enak). Keputusan yg ilmiah/logis.

    Tentu dalam memilih/membuat keputusan, ketika kita sudah punya ilmu nya pasti gampang, tapi kalau tidak memiliki kemampuan bagaimana? tentu ikut pendapat ahli, orang2 yg berilmu

    Ada hukum keseimbangan nya (neraca allah QS. 55:7-9)
    Terlalu mikir keputusan sendiri tidak baik, terlalu ikut2an orang juga tidak baik, masing-masing ada porsinya.

    • Hehehe.. Mas Dhanang, mungkin itulah inti pesan dari para orang-orang Arif.

      Jaga selalu untuk kembali dan ingat pada Tuhan, nanti ada saja pengajaran yang diberikanNya yang bisa lewat diri sendiri maupun orang lain. Insha Allah…

Komentar Anda disini sangat Berarti

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s