Berkatalah Yang Baik atau Diam

words

image via flicr

Salah satu teknik psikologi yang banyak digunakan, tetapi tidak semua orang tahu adalah teknik “priming”.

Yakni teknik untuk memicu ingatan yang pada gilirannya bisa mengarahkan pola pikir dan tindakan baik (positif) ataupun buruk (negatif).

Pemicunya bermacam-macam, bisa orang lain, gambar, suara atau kata-kata.

Bukankah Anda tiba-tiba bisa menjadi bersemangat kembali sehabis melihat gambar foto keluarga misalkan?

Atau sesaat sehabis mengingat kembali putra-putri Anda yang bertingkah lucu?

Atau sesaat sehabis membaca kata-kata motivasi dari seorang motivator mungkin?

Bahkan memikirkan jati diri seorang profesor bisa membuat Anda lebih percaya diri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan pengetahuan umum, silahkan membaca tulisan lalu perihal tersebut disini.

Nah, kali ini kita akan coba memahami teknik “priming” yang efektif, tetapi kadang Anda lupa menyadari efeknya.

Yaitu kekuatan kata-kata dalam memicu pikiran dan tingkah laku.

Efek Kata-kata Pada Tingkah Laku

Suatu percobaan yang dilakukan oleh John A. Bargh, Mark Chen dan Lara Burrows dari New York University memberikan penjelasan bahwa kata-kata bisa membentuk tindakan tertentu.

Para partisipan adalah 34 mahasiswa psikologi New York University.

Bentuk percobaannya semacam “scrambled-sentence test” seperti memperbaiki atau menyusun kata-kata begitulah.

#Percobaan Kata Baik dan Tidak Baik

Ada kumpulan kata-kata yang mempresentasikan kekasaran (rude) seperti agresif, kasar, menjengkelkan, menggangu, interupsi, tidak sabar dan lain sebagainya.

Ada juga kata-kata lain yang mempresentasikan kesopanan (polite) seperti, hormat, menghargai, sabar, sopan, sensitif, dan lain sebagainya.

Kedua-duanya diberikan secara acak kepada 34 partisipan untuk diselesaikan.

Tentunya para partisipan tidak menemukan kesulitan berarti dan mereka dengan cepat mampu menyelesaikan “scrambled-sentence test” tersebut.

Setelah selesai melakukan “scrambled-sentence test“, para partisipan kemudian diminta menuju ruang lab selanjutnya untuk bertemu dengan penguji lainnya yang akan melakukan test kedua.

Namun, partisipan menjumpai kalau si penguji ternyata sedang memberikan instruksi kepada seorang partisipan (katakan saja si A) yang kayaknya “nga ngerti-ngerti” meskipun sudah diberikan penjelasan oleh si penguji tersebut.

Hal yang tidak diketahui oleh para partisipan adalah bahwa itu sudah di setting.

Jadi, si A itu sebenarnya adalah orang yang sudah disetting untuk seolah-olah sedang bertanya kepada si penguji.

Kenapa disetting seperti itu?

Karena, para penguji ingin mengetahui apakah para partisipan akan bersabar menunggu si penguji menyelesaikan masalahnya dengan si A atau akan cepat-cepat mengiterupsi karena tak sabaran.

Bagaimana menurut Anda? Apakah para partisipan bisa sabar menunggu?

Ternyata, para partisipan yang menghadapi dan menyelesaikan “scrambled-sentence test” dengan kumpulan kata-kata kesopanan (polite) bisa lebih sabar daripada partisipan dengan kumpulan kata-kata kasar (rude).

Partisipan yang menyusun kumpulan kata-kata kesopanan (polite) bisa menunggu rata-rata 9.3 menit sebelum melakukan interupsi. 

Sementara partisipan yang bekerja dengan kumpulan kata-kata kasar (rude) hanya mampu menunggu dalam 5.5 menit sebelum melakukan interupsi.

Jadi, mereka yang kena stimulus dengan kata-kata kesopanan (polite) bisa lebih sabar daripada partisipan yang distimulus dengan kumpulan kata-kata kasar (rude).

Padahal stimulus tersebut terjadi cuma karena mereka mengerjakan “scrambled-sentence test“.

Namun, efeknya begitu terlihat bedanya.

Kata-kata terbukti bisa menstimulus dan menghasilkan aksi yang berbeda terhadap para partisipan meskipun mereka tidak menyadarinya.

Bayangkan kalau stimulus itu diberikan dan dilakukan dengan sadar, tentu efeknya bisa lebih tajam sekali.

#Percobaan Lainnya

Di eksperimen lain para partisipan tidak lagi harus melakukan “scrambled-sentence test” dengan mengunakan kumpulan kata-kata sopan (polite) dan kasar (rude). 

Mereka dihadapkan pada soal dengan kata-kata yang mewakili karakter orang-orang tua.

Apa saja, kata-kata yang mewakili karakter orang-orang tua tersebut (eldery sterotype)?

Dari hasil eksperiman kolega lain kata-kata itu diantaranya adalah : kuatir (worried), tua (old), sendiri (lonely), keras kepala (stubborn), bijaksana (wise).

Para partisipan pun diminta untuk melakukan “scrambled-sentence test” dengan menggunakan kumpulan kata-kata tersebut.

Setelah itu, para penguji menghitung berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk berjalan keluar dari gedung.

Ternyata, para partisipan yang melakukan “scrambled-sentence test” menggunakan kata-kata-kata mewakili orang-orang tua memang jadi orang tua.

Mereka membutuhkan waktu untuk berjalan ke luar gedung lebih lama untuk ukuran seumur mereka.

Jadi berasa lebih tua kali ya? Hehehe…

Padahal mereka adalah para mahasiwa yang masih muda dan energik pastinya.

Nah, percobaan-percobaan tersebut diatas semakin menambah wawasan baru tentunya.

Berhati-hati dalam memilih kata-kata menjadi sangat penting karena efek stimulusnya tersebut.

Anjuran perihal ini tentunya sudah banyak sekali.

Bagi sahabat-sahabat muslim tentunya banyak sekali baik didalam Al Qur’an maupun hadist perihal anjuran menjaga kata-kata tersebut.

Dan hadist berikut ini menjadi semakin benar adanya:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (hadist Bukhari dan Muslim)

Salam…